PT Vale Teguhkan Komitmen Lingkungan, Nursery Kolaka Jadi ‘Pabrik’ Bibit Pascatambang

Komitmen PT Vale Indonesia tersebut diwujudkan melalui penerapan prinsip green mining dengan mengoperasikan fasilitas nursery atau pembibitan di Desa Lalonggalosua, Kecamatan Tanggetada, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.
banner 325x300

KOLAKA, NALARMEDIA — Aktivitas pertambangan kerap dikaitkan dengan isu kerusakan lingkungan.

Namun, PT Vale Indonesia Tbk menunjukkan bahwa kegiatan pertambangan dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga dan memulihkan ekosistem.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penerapan prinsip green mining dengan mengoperasikan fasilitas nursery atau pembibitan di Desa Lalonggalosua, Kecamatan Tanggetada, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Bukan sekadar tempat pembibitan, fasilitas seluas sekitar lima hektare itu menjadi salah satu penopang utama program reklamasi pascatambang PT Vale.

Kapasitas produksinya bahkan mencapai satu juta bibit tanaman setiap tahun.

Bibit-bibit tersebut nantinya ditanam kembali di kawasan reklamasi untuk membantu mengembalikan fungsi ekologis lahan bekas tambang.

Supervisor Nursery PT Vale Indonesia IGP Pomalaa, Al-Faras Nur Ramadhan, menjelaskan bibit yang dikembangkan di nursery berasal dari bibit cabutan maupun indukan tanaman yang diperoleh dari kawasan tambang dan area reklamasi.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tanaman yang dikembalikan ke kawasan reklamasi tetap memiliki kesesuaian dengan karakter ekosistem asli wilayah Kolaka.

“Kami memiliki kewajiban melakukan revegetasi atau penanaman kembali untuk melindungi ekosistem awal daerah tersebut. Bibit kami ambil dari area sekitar, dibesarkan di nursery, lalu dikembalikan lagi ke area reklamasi untuk penghijauan,” ujar Al-Faras.

Menurutnya, keberadaan nursery menjadi bagian penting dari komitmen perusahaan dalam menjalankan praktik pertambangan yang bertanggung jawab.

PT Vale, kata dia, tidak hanya mengambil manfaat dari sumber daya alam, tetapi juga menjalankan tanggung jawab untuk memulihkan keseimbangan ekosistem melalui proses reklamasi secara berkelanjutan.

Dari Bibit hingga Kembali ke Alam

Proses menghasilkan bibit hingga siap ditanam membutuhkan waktu sekitar tiga bulan.

Tahap awal dimulai dengan penyemaian menggunakan polytray selama satu hingga dua pekan. Setelah itu, bibit dipindahkan ke wadah yang lebih besar untuk menjalani proses pembesaran selama satu hingga dua bulan sebelum akhirnya siap ditanam di area reklamasi.

Beragam jenis tanaman dikembangkan di kawasan nursery tersebut.

Mulai dari tanaman pionir yang memiliki pertumbuhan cepat, tanaman endemik khas Sulawesi, tanaman buah, hingga tanaman hias.
Untuk tanaman pionir, PT Vale mengembangkan cemara angin, bitti, nyamplung, dan sengon buto. Jenis-jenis tersebut dipilih karena memiliki kemampuan bertahan hidup yang relatif baik di lahan pascatambang.

Sementara untuk tanaman endemik, terdapat kayu kuku, kayu Kolaka, hingga anggrek Spathoglottis plicata atau yang dikenal sebagai anggrek sorum.

“Tanaman pionir memiliki kemampuan bertahan hidup yang lebih baik di area reklamasi karena pertumbuhannya relatif lebih cepat dibandingkan jenis tanaman lainnya,” jelas Al-Faras.

Keberadaan tanaman endemik juga menjadi perhatian penting. Pengembangan berbagai jenis tanaman lokal di nursery diharapkan dapat mendukung upaya menjaga keanekaragaman hayati sekaligus memperkuat karakter vegetasi asli kawasan.

Nursery Jadi Ruang Belajar Lingkungan

Menariknya, fasilitas nursery PT Vale tidak hanya berfungsi sebagai pusat produksi bibit.
Kawasan tersebut juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi lingkungan bagi pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

Melalui kunjungan dan kegiatan edukasi, masyarakat diperkenalkan pada proses pembibitan, pentingnya konservasi keanekaragaman hayati, hingga tahapan reklamasi lahan pascatambang.
Upaya ini sekaligus menjadi cara PT Vale membangun pemahaman bahwa reklamasi bukan sekadar kewajiban setelah kegiatan pertambangan selesai, melainkan bagian dari siklus pengelolaan lingkungan yang harus direncanakan dan dijalankan secara berkelanjutan.

Dengan kemampuan menghasilkan hingga satu juta bibit per tahun, fasilitas nursery PT Vale di Kolaka diharapkan mampu memperkuat percepatan revegetasi kawasan pascatambang.

Lebih dari sekadar angka produksi bibit, program tersebut menjadi gambaran bagaimana industri pertambangan berupaya membangun keseimbangan antara aktivitas ekonomi, pemanfaatan sumber daya alam, dan tanggung jawab menjaga lingkungan.

Di tengah tantangan menjaga keberlanjutan lingkungan, satu juta bibit yang tumbuh setiap tahun menjadi harapan baru bagi pemulihan kawasan pascatambang dan kelestarian ekosistem di Kolaka. (ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *