POMALAA, NALARMEDIA – Komitmen Mining Industry Indonesia (MIND ID) dalam mengawal pengembangan Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa kembali ditegaskan melalui kunjungan kerja Komisaris MIND ID yang juga Asisten Utama Operasi (Astamaops) Kapolri, Komjen Pol. Dr. Mohammad Fadil Imran, M.Si., bersama Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin ke kawasan proyek PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Kunjungan yang melibatkan pemerintah daerah, TNI, Polri, Kejaksaan, serta berbagai pemangku kepentingan tersebut menjadi wujud penguatan sinergi lintas sektor untuk memastikan pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Blok Pomalaa berjalan aman, kondusif, patuh terhadap hukum, berkelanjutan, serta mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian nasional.
Sebagai bagian dari agenda hilirisasi mineral nasional, IGP Pomalaa diproyeksikan menjadi salah satu pilar penting dalam memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok global kendaraan listrik melalui pembangunan fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL).
Turut mendampingi kunjungan tersebut jajaran manajemen PT Vale, yakni Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer Budiawansyah dan Chief Project Officer Muhammad Asril. Hadir pula Kapolda Sulawesi Tenggara Irjen Pol. Himawan Bayu Aji, Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko, Ketua DPRD Sultra La Ode Tariala, Bupati Kolaka H. Amri, Kapolres Kolaka AKBP Yudha Widyatama Nugraha, Danrem 143/Halu Oleo Brigjen TNI Raden Wahyu Sugiarto, serta Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara Sugeng Riyanta.
Kehadiran seluruh unsur tersebut menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga keamanan investasi, kepastian hukum, serta keberlanjutan pembangunan proyek strategis yang diyakini akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru di Sulawesi Tenggara.
Dalam kesempatan itu, Komjen Pol. Mohammad Fadil Imran menegaskan bahwa seluruh persoalan sosial yang muncul di sekitar kawasan proyek harus diselesaikan melalui dialog, koordinasi, dan sinergi tanpa mengesampingkan kepentingan masyarakat.
“Holding tentu akan maksimal dalam mendukung anak holding (PT Vale). Kalau ada persoalan-persoalan sosial, kita bahas bersama dan melihat langsung kondisi di lapangan bersama Forkopimda, Polda, Kodam, Bupati, dan Kejaksaan. Harapannya semua persoalan bisa diselesaikan dengan sinergi tanpa meninggalkan masyarakat. Kita ingin kawasan industrinya maju, masyarakatnya maju, dan alamnya tetap lestari,” ujar Fadil Imran.
Ia menambahkan, perkembangan kawasan industri di Kolaka telah memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat.
Berbagai sektor seperti transportasi, kuliner, perhotelan, pariwisata hingga penyerapan tenaga kerja mulai tumbuh seiring meningkatnya aktivitas industri.
“Masyarakat sangat berterima kasih. Kehadiran kawasan industri dan PT Vale telah menciptakan efek berganda bagi ekonomi daerah. Karena itu kita harus menjaga kondusivitas iklim investasi. Semua persoalan bisa diselesaikan dengan hati dan pikiran yang jernih demi kemajuan bersama,” tambahnya.
Di Blok Pomalaa, PT Vale bersama mitra globalnya membentuk perusahaan patungan PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI) untuk membangun fasilitas HPAL di kawasan industri PT Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP).
Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 120.000 ton nikel dan 15.000 ton kobalt yang terkandung dalam Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) setiap tahun.
Produk tersebut merupakan bahan baku utama industri baterai kendaraan listrik yang saat ini menjadi salah satu komoditas strategis dunia.
Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale, Budiawansyah, menegaskan bahwa keberhasilan IGP Pomalaa tidak hanya diukur dari progres pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan perusahaan menjaga kepercayaan masyarakat dan menghadirkan manfaat jangka panjang.
“Bagi PT Vale, keberhasilan IGP Pomalaa bukan hanya soal pembangunan proyek, tetapi juga bagaimana kami menjaga kepercayaan masyarakat, mematuhi regulasi, menjalankan tata kelola yang baik, serta memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi daerah. Hilirisasi harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan penghormatan terhadap hak masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Chief Project Officer PT Vale, Muhammad Asril, memastikan pembangunan fasilitas HPAL terus berjalan dengan mengedepankan aspek keselamatan kerja, kualitas pelaksanaan, dan tata kelola proyek yang bertanggung jawab.
“IGP Pomalaa merupakan proyek strategis berskala besar dengan tingkat kompleksitas tinggi. Karena itu setiap tahapan pembangunan dijalankan secara disiplin, terukur, dan mengutamakan keselamatan. Kolaborasi bersama KNI, IPIP, Huayou, Ford, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar proyek ini mampu memberikan nilai tambah optimal bagi Indonesia dan masyarakat Kolaka,” ujarnya.
Melalui dukungan penuh MIND ID, sinergi pemerintah pusat dan daerah, aparat penegak hukum, serta kolaborasi dengan masyarakat dan mitra industri, IGP Pomalaa diharapkan menjadi model pengembangan hilirisasi nikel yang berkelanjutan.
Selain memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik dunia, proyek ini juga diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menjaga kelestarian lingkungan melalui penerapan praktik pertambangan yang bertanggung jawab. (ADV)















