BONE, NALARMEDIA — Api mungkin telah melalap rumah dan harta benda. Namun, di tengah puing-puing yang tersisa, warga Desa Sanrangeng, Kecamatan Dua Boccoe, tidak dibiarkan menghadapi kesedihan seorang diri.
Sabtu (12 September 2026) sekitar pukul 13.30 Wita, kebakaran hebat menghanguskan rumah warga di desa tersebut.
Dalam sekejap, tempat yang selama ini menjadi ruang untuk berkumpul bersama keluarga berubah menjadi puing dan menyisakan luka mendalam.
Di tengah suasana duka itulah, pemerintah dengan cepat hadir.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bone, Andi Tenriawaru, turun langsung ke lokasi membawa bantuan bagi warga yang menjadi korban kebakaran.
Ia datang tanpa kemewahan. Tampil sederhana, Andi Tenriawaru berjalan di tengah masyarakat bersama sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bone.
Tidak ada jarak antara pejabat dan warga.
Yang terlihat adalah pertemuan antara pemerintah dengan rakyatnya dalam sebuah keadaan yang sama sekali tidak diharapkan.
Andi Tenriawaru menyapa dan berbincang dengan warga, mendengarkan kondisi mereka sekaligus memastikan bantuan dapat diterima oleh korban yang membutuhkan.
Bagi masyarakat yang baru saja kehilangan tempat tinggal, bantuan tersebut tentu sangat berarti.
Namun, ada sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar bantuan.
Kehadiran pemerintah di tengah musibah adalah pesan bahwa mereka tidak sendiri.
Bahwa ketika kehilangan datang secara tiba-tiba, masih ada tangan yang terulur.
Bahwa ketika rumah tak lagi berdiri, masih ada kepedulian yang dapat menjadi pijakan untuk bangkit.
Kehadiran Pj Sekda Bone bersama jajaran OPD tersebut sejalan dengan atensi Pemkab Bone di bawah kepemimpinan Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. (BupAAS).
Bagi Pemkab Bone, masyarakat yang tertimpa musibah membutuhkan respons cepat. Pemerintah tidak boleh menunggu terlalu lama ketika warganya membutuhkan pertolongan.
“Ketika masyarakat tertimpa musibah, Pemkab Bone harus bergerak cepat memberikan pertolongan.”
Semangat itu pula yang terlihat di Desa Sanrangeng.
Di antara warga yang masih mencoba menguatkan diri, kehadiran jajaran Pemkab Bone menjadi bentuk nyata bahwa pemerintah tidak hanya hadir dalam ruang-ruang rapat dan agenda resmi.
Pemerintah juga harus hadir ketika rakyat sedang menangis.
Sebab, dalam kondisi seperti ini, mungkin bantuan yang diberikan tidak akan mampu mengembalikan seluruh harta benda yang telah hilang.
Namun, kepedulian yang datang tepat waktu dapat memberikan sesuatu yang tak kalah penting: harapan.
Harapan bahwa kehidupan masih bisa dimulai kembali.
Harapan bahwa dari puing-puing kebakaran, akan tumbuh kembali kekuatan untuk bangkit.
Dan harapan bahwa di saat paling berat sekalipun, masih ada pemerintah yang memilih untuk berdiri bersama rakyatnya.
Api boleh merenggut rumah, tetapi kepedulian tidak boleh padam.
Di Desa Sanrangeng, pesan itu terasa nyata: ketika rakyat tertimpa musibah, pemerintah harus datang bukan sekadar membawa bantuan, tetapi juga membawa penguatan, kepedulian, dan harapan. (red)















