BONE, NALARMEDIA — Di tengah sisa-sisa duka akibat kebakaran, semangat kebersamaan kembali terlihat di Desa Sanrangeng, Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone, Senin (14 September 2026).
Personel Satsamapta Polres Bone bersama anggota Polsek Dua Boccoe, Babinsa, dan masyarakat setempat turun langsung melakukan pembersihan atau kurvei di lokasi terdampak kebakaran.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 09.40 WITA itu dipimpin Kapolsek Dua Boccoe IPTU Aris, S.H.
Sejumlah personel kepolisian, TNI, serta warga bahu-membahu membersihkan sisa material dan puing yang ditinggalkan musibah.
Tidak hanya mengangkut puing, mereka juga menata kembali area sekitar lokasi agar lebih bersih dan aman untuk warga.
Di tengah suasana pascakebakaran yang masih menyisakan kesedihan, kehadiran aparat bersama masyarakat menjadi pesan sederhana bahwa korban tidak menghadapi musibah seorang diri.
Polisi hadir bukan hanya ketika situasi membutuhkan pengamanan, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan uluran tangan untuk bangkit.
Kasat Samapta Polres Bone AKP Safiruddin, S.M., mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian sekaligus wujud kehadiran Polri di tengah masyarakat, khususnya warga yang sedang menjalani masa pemulihan setelah musibah.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa Polri hadir bersama masyarakat, tidak hanya dalam menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga membantu warga dalam proses pemulihan setelah terjadi musibah,” ujar AKP Safiruddin.
Menurutnya, proses pemulihan pascakebakaran tidak hanya membutuhkan bantuan material. Dukungan moril dan kepedulian dari lingkungan sekitar juga sangat berarti bagi warga yang terdampak.
Karena itu, sinergi antara Polri, TNI, dan masyarakat menjadi kekuatan penting untuk mempercepat penanganan sekaligus mengembalikan kondisi lingkungan agar kembali bersih dan aman.
“Semangat gotong royong seperti ini perlu terus dipelihara. Dengan kebersamaan, beban masyarakat yang terdampak musibah dapat sedikit diringankan,” tambahnya.
Kegiatan berlangsung aman dan lancar.
Gotong royong tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa di balik musibah, masih ada kepedulian yang tumbuh. Tangan-tangan yang membersihkan puing bukan sekadar merapikan bekas kebakaran, tetapi ikut menyalakan kembali harapan warga Sanrangeng untuk menata kehidupan setelah musibah.
Sebab, pemulihan tidak selalu dimulai dari hal besar. Terkadang, ia dimulai dari kebersamaan—dari puing yang diangkat bersama dan dari keyakinan bahwa warga tidak berjalan sendirian. (red)















