BONE, NALARMEDIA — Duka masih menyelimuti warga Desa Sanrangeng, Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, setelah kebakaran melanda permukiman warga pada Sabtu (12 September 2026) sekitar pukul 14.25 WITA.
Musibah tersebut tidak hanya menghanguskan rumah dan harta benda warga, tetapi juga merenggut satu nyawa.
Sebanyak 11 rumah terdampak dalam peristiwa itu, terdiri atas sembilan rumah yang terbakar dan dua rumah lainnya terdampak.
Korban meninggal dunia diketahui bernama Hasan (40), seorang laki-laki.
Di tengah suasana duka tersebut, Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Andi Amar Ma’ruf Sulaiman datang langsung mengunjungi lokasi kebakaran untuk melihat kondisi warga sekaligus menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
Kehadiran Andi Amar menjadi bentuk perhatian terhadap warga yang kini harus menghadapi kehilangan tempat tinggal dan harta benda akibat musibah tersebut.
“Turut berduka kepada korban kebakaran. Mudah-mudahan apa yang masyarakat salurkan bisa dimanfaatkan secara merata,” ucap Andi Amar.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para relawan yang sejak terjadinya musibah terus bergerak membantu para korban.
Menurutnya, semangat gotong royong menjadi kekuatan penting bagi warga untuk melewati masa sulit pascakebakaran.
“Teman-teman relawan, semoga sehat-sehat semua. Doakan, kami upayakan semoga bisa mendapatkan bantuan pembangunan rumah, baik di Kabupaten, Provinsi atau di Pusat,” katanya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi harapan agar penanganan korban tidak berhenti pada bantuan kebutuhan darurat.
Pemulihan tempat tinggal warga juga dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar para korban dapat kembali menjalani kehidupan secara layak.
Adapun warga yang menjadi korban terdampak kebakaran yakni Salma, Ruddin, Kaya, H. Malik, Hasna, Latuo, Juma, Hj. Tiha, Pattawe, Tahang, dan Nia. Dari jumlah tersebut, Tahang dan Nia tercatat sebagai warga yang rumahnya terdampak akibat kebakaran.
Andi Amar berharap koordinasi dengan pemerintah di berbagai tingkatan dapat membuka peluang bantuan pembangunan kembali rumah warga yang terbakar maupun mengalami kerusakan.
Selain bantuan pembangunan rumah, dukungan berupa kebutuhan sehari-hari juga diharapkan terus mengalir kepada warga yang terdampak.
Sebab, setelah api padam, para korban masih harus menghadapi fase pemulihan yang tidak ringan.
Musibah Sanrangeng menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap korban bencana tidak boleh berhenti ketika kobaran api telah padam.
Di balik rumah yang hangus, terdapat keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Di balik bantuan yang disalurkan, ada harapan agar mereka mampu bangkit kembali.
Terlebih, kehilangan Hasan meninggalkan duka yang jauh lebih dalam bagi keluarga dan masyarakat sekitar.
Kini, warga Sanrangeng membutuhkan bukan hanya bantuan untuk bertahan, tetapi juga dukungan nyata untuk kembali menata kehidupan mereka.
Gotong royong dan kepedulian berbagai pihak diharapkan menjadi jalan bagi para korban untuk bangkit dari puing-puing kebakaran dan kembali memiliki tempat tinggal yang layak. (ADV)















