Dosen UMI Perkuat Kapasitas Kader Posyandu Desa Borikamase melalui Pelatihan PMT Berbasis Pangan Lokal

banner 325x300

MAKASSAR, NALARMEDIA— Dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Desa Borikamase Tahun 2026 melalui kegiatan “Inovasi Penguatan Kapasitas Kader Posyandu Desa Borikamase melalui Pendidikan Kader dan Pelatihan PMT Berbasis Pangan Lokal Menuju Desa Sehat.”

Program ini dipimpin oleh Dr. Hj. Nurjannah Abna, S.S., M.Pd., Dosen Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi dan Pendidikan (FSIKP) UMI, bersama Dr. Fatma Afrianty Gobel, SKM., M.Epid., Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UMI.

Kegiatan PkM Dosen UMI merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam menghadirkan kontribusi akademisi melalui pemberdayaan masyarakat. Program difokuskan pada penguatan kapasitas kader Posyandu agar mampu menjalankan peran secara lebih optimal, baik dalam aspek kepemimpinan, komunikasi kesehatan, maupun edukasi pemenuhan gizi keluarga.

Ketua Tim PkM, Dr. Hj. Nurjannah Abna, disela acara mengatakan bahwa kader Posyandu memiliki posisi strategis dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, karena berinteraksi langsung dengan keluarga dan menjadi salah satu penghubung penting antara program kesehatan dan kehidupan masyarakat di tingkat desa.

“Melalui sinergi antara akademisi dan masyarakat, program ini berfokus pada pembangunan manusia melalui penguatan kapasitas kader dan transformasi layanan kesehatan yang aplikatif, kontekstual, serta berbasis pada kebutuhan riil masyarakat,” ujar Nurjannah.

Menurut Dekan FSIKP UMI ini, pelaksanaan program dilatarbelakangi oleh pentingnya optimalisasi peran kader Posyandu dalam mendukung upaya percepatan penurunan stunting. Karena itu, penguatan kapasitas kader tidak cukup hanya pada aspek teknis pelayanan Posyandu, tetapi juga perlu mencakup kemampuan memimpin, berkomunikasi, mengedukasi, serta mendampingi keluarga dalam pemenuhan gizi.

Program ini menawarkan pendekatan yang mengintegrasikan penguatan kepemimpinan kader, komunikasi kesehatan berbasis Nudge Theory, serta keterampilan scientific cookingdalam pengelolaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT).Pendekatan ini diarahkan untuk membangun kemampuan kader agar dapat menyampaikan pesan kesehatan secara lebih efektif sekaligus mendorong perubahan perilaku positif di tingkat keluarga.

“Harapannya, kader tidak hanya menjadi pelaksana kegiatan Posyandu, tetapi juga mampu berperan sebagai health literacycoach, yaitu pendamping yang membantu keluarga memahami informasi kesehatan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam pemenuhan gizi,” jelas Nurjannah.

Manfaatkan Potensi Pangan Lokal
Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi program, kemudian dilanjutkan dengan pendidikan dan pelatihan kepemimpinan kader serta komunikasi kesehatan. Para peserta juga mendapatkan edukasi mengenai PMT berbasis pangan lokal sebagai bagian dari upaya mendukung pemenuhan gizi keluarga dan pencegahan stunting.

Salah satu kegiatan utama adalah praktik pengolahan PMT dengan memanfaatkan ikan bandeng dan daun kelor, yang merupakan bagian dari potensi pangan lokal yang tersedia di Desa Borikamase.

Pemanfaatan bahan pangan lokal tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan makanan yang bergizi, tetapi juga untuk membangun kesadaran bahwa sumber pangan di sekitar masyarakat dapat diolah secara kreatif menjadi menu yang mendukung kebutuhan gizi keluarga.

Selain itu, tim PkM memberikan pelatihan pemenuhan gizi keluarga dengan memanfaatkan bahan pangan lokal lainnya, termasuk jagung pulut. Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik pengolahan makanan.

Melalui pendekatan praktik tersebut, kader diharapkan memiliki keterampilan yang dapat diterapkan dalam kegiatan Posyandu maupun dalam memberikan edukasi kepada keluarga di lingkungan masing-masing.

Dosen FKM UMI, Dr. Fatma Afrianty Gobel, SKM., M.Epid., menekankan pentingnya pemanfaatan potensi pangan lokal dalam mendukung pemenuhan gizi masyarakat.
“Pemberian makanan tambahan dapat dibuat lebih variatif dengan memanfaatkan potensi pangan yang tersedia di desa. Dengan demikian, masyarakat dapat mengoptimalkan sumber daya lokal yang ada untuk mendukung pemenuhan gizi keluarga,” ungkap Fatma.

Menurutnya, pendekatan berbasis pangan lokal juga dapat menjadi bagian dari edukasi kesehatan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar, pengetahuan mengenai gizi diharapkan lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Desa Borikamase, Aswing, menyampaikan apresiasi kepada tim PkM dosen UMI atas pendampingan dan pelatihan yang diberikan kepada masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena memberikan manfaat dan mendukung program desa. Kami berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan saja, tetapi dapat berkelanjutan dalam berbagai program pembinaan masyarakat,” kata Aswing.

Ia berharap sinergi antara UMI dan Pemerintah Desa Borikamase dapat terus dikembangkan melalui berbagai bidang pemberdayaan masyarakat,  tidak hanya terbatas pada bidang kesehatan, tetapi dapat diperluas pada pembinaan majelis taklim, imam desa, karang taruna, dan pengurus PKK, sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Apresiasi juga disampaikan Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Pembina Kader Posyandu Desa Borikamase, Indrawati. Ia menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman dan keterampilan baru bagi para kader, terutama dalam pengolahan makanan berbasis pangan lokal dan pemenuhan gizi keluarga.

“Kami berterima kasih atas pelatihan yang diberikan. Kegiatan ini sangat bermanfaat karena meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader. Kami berharap apa yang telah diperoleh dapat benar-benar diimplementasikan dalam kegiatan Posyandu dan pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.


Dorong Keberlanjutan Program
Sebagai bagian dari penguatan keberlanjutan program, kegiatan PkM ditutup dengan perumusan rencana tindak lanjut (RTL) bersama kader dan pemerintah desa.

RTL tersebut diarahkan untuk memastikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kegiatan dapat diimplementasikan secara berkelanjutan, baik dalam kegiatan Posyandu maupun dalam berbagai aktivitas pemberdayaan masyarakat.

Kolaborasi Kampus dan Masyarakat
Tim PkM UMI menyampaikan apresiasi kepada Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Rektor UMI, Ketua LPKM UMI beserta jajaran, Pemerintah Desa Borikamase, serta seluruh kader Posyandu yang telah menjadi mitra aktif dalam pelaksanaan program.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun model pemberdayaan masyarakat yang menempatkan perguruan tinggi dan masyarakat sebagai mitra dalam proses pembelajaran dan pemecahan persoalan di lapangan.

Melalui program ini, tim PkM UMI berharap peningkatan kapasitas kader dapat memberikan dampak yang lebih luas terhadap literasi kesehatan dan pemenuhan gizi keluarga, sekaligus mendorong pemanfaatan potensi pangan lokal secara berkelanjutan.

Program tersebut sekaligus memperkuat komitmen UMI dalam menghadirkan ilmu pengetahuan yang tidak berhenti di ruang akademik, tetapi diterjemahkan menjadi praktik yang memberikan manfaat bagi masyarakat.(rls/red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *