MAKASSAR, NALARMEDIA.ID — Musyawarah Wilayah (Muswil) I Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) Sulawesi Selatan dijadwalkan menjadi momentum penting bagi perjalanan organisasi alumni UI di Sulsel.
Agenda yang akan digelar pada 17 Oktober 2026 di Makassar itu turut memunculkan sejumlah nama dengan rekam jejak profesional yang menarik perhatian.
Salah satu sosok yang mencuat adalah Fauziah Zulftri, S.Psi., M.M., PCC, perempuan berdarah Luwu yang dikenal memiliki pengalaman panjang di dunia korporasi, human capital, kepemimpinan, serta pengembangan organisasi.
Fauziah merupakan alumni Universitas Indonesia sekaligus Founder Insight Indonesia, Leadership Coach & Executive Mentor. Lebih dari dua dekade pengalaman profesional telah membawanya bersentuhan dengan berbagai tantangan dalam pengembangan sumber daya manusia, kepemimpinan, dan organisasi.
Kini, pengalaman tersebut ingin dibawa ke ruang pengabdian yang lebih luas melalui ILUNI UI Sulawesi Selatan.
Berbasis di Makassar dan membangun jejaring profesional dari Sulawesi Selatan hingga berbagai wilayah Indonesia, Fauziah telah melewati perjalanan panjang dalam dunia profesional.
Bahkan, sekitar satu dekade terakhir ia turut membangun Insight Indonesia dari kawasan Timur Indonesia.
Momentum Muswil I ILUNI UI Sulsel dinilainya sebagai kesempatan untuk memberikan kembali pengalaman dan jejaring yang dimiliki kepada almamater serta komunitas alumni.
ILUNI Bukan Sekadar Ruang Silaturahmi
Bagi Fauziah, keberadaan ILUNI UI memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat berkumpul atau menjaga hubungan antarlulusan.
ILUNI, menurut gagasan yang dibawanya, dapat menjadi ruang untuk menghubungkan alumni dari berbagai generasi, profesi, industri, dan disiplin ilmu.
Dari koneksi tersebut, terbuka peluang kolaborasi yang dapat memberikan manfaat bagi alumni, generasi berikutnya, maupun masyarakat.
Gagasan itu kemudian dirangkum dalam semangat:
“Dari alumni, bersama alumni, untuk memberi dampak yang lebih besar.”
Menurutnya, setiap alumni membawa cerita dan kekuatan masing-masing. Ada ilmu yang diperoleh selama berada di bangku kuliah, pengalaman profesional yang terus berkembang, serta jejaring yang semakin luas seiring perjalanan waktu.
Jika seluruh potensi tersebut berjalan sendiri-sendiri, dampaknya tentu terbatas. Namun, ketika dihimpun dalam satu semangat kebersamaan, kekuatan itu dapat menjadi energi besar untuk menciptakan perubahan.
Senior dan Muda Dipertemukan
Fauziah juga menempatkan kolaborasi lintas generasi sebagai salah satu gagasan penting dalam membangun ILUNI UI Sulsel.
Para alumni senior memiliki pengalaman dan pengetahuan yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda. Di sisi lain, alumni muda membawa energi, gagasan, perspektif, serta jejaring baru yang dapat memperkaya organisasi.
Pertemuan kedua kekuatan tersebut diharapkan dapat melahirkan berbagai bentuk kolaborasi, mulai dari mentoring, berbagi peluang kerja, pengembangan usaha, hingga kegiatan sosial.
Sebab, persaudaraan alumni, dalam pandangan Fauziah, bukan semata-mata tentang nostalgia terhadap almamater. Lebih dari itu, persaudaraan alumni merupakan modal sosial yang dapat digerakkan menjadi kontribusi nyata.
Dari Alumni, Kembali untuk Bangsa
Gagasan yang dibawa Fauziah juga menempatkan dampak sosial sebagai tujuan akhir dari keberadaan organisasi alumni.
ILUNI UI diharapkan mampu membuka akses pendidikan bagi mereka yang membutuhkan, memperkuat kesiapan kerja lulusan baru, memperluas kesempatan kolaborasi, sekaligus ikut membantu masyarakat agar dapat tumbuh dan berkembang.
Dengan organisasi yang inklusif, kolaboratif, profesional, dan berdampak, jejaring alumni tidak berhenti pada hubungan personal, tetapi dapat berkembang menjadi kekuatan bersama.
Muswil I ILUNI UI Sulsel pada 17 Oktober 2026 pun menjadi ruang bagi para alumni untuk menentukan arah perjalanan organisasi ke depan.
Di tengah dinamika tersebut, kehadiran Fauziah Zulftri membawa gagasan tentang bagaimana jejaring alumni dapat diubah menjadi kekuatan kolaborasi.
Dari alumni. Bersama alumni. Untuk dampak yang lebih besar.
Sebab, bagi Fauziah, kekuatan terbesar sebuah almamater bukan hanya terletak pada nama besar institusinya, tetapi pada orang-orang yang pernah tumbuh dan belajar di dalamnya—serta sejauh mana mereka mampu kembali memberi manfaat bagi sesama. (rls/red)















