BONE, NALARMEDIA.ID – Baju putih, topi hitam, dan senyum yang menyapa warga.
Penampilan sederhana Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., (BupAAS) menjadi bagian dari suasana hangat Pesta Rakyat Desa Waekeccee yang berlangsung di Sungai Lompong Monang, Dusun Bulu Kasa 2, Kecamatan Lappariaja, Rabu (14 Oktober 2026).
Di tengah riuh kebersamaan masyarakat, pesta rakyat itu bukan sekadar perayaan.
Ada tradisi Mabbaje dan Majjala yang menyimpan jejak kehidupan leluhur, nilai persaudaraan, serta kedekatan masyarakat dengan alam yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Kehadiran BupAAS tersebut disambut antusias warga.
Momentum ini sekaligus menjadi ruang perjumpaan antara pemerintah dan masyarakat dalam suasana yang akrab, jauh dari kesan formal sebuah agenda pemerintahan.
Bagi masyarakat Desa Waekeccee, tradisi seperti Mabbaje dan Majjala bukan hanya tentang menjalankan kebiasaan lama.
Lebih dari itu, tradisi menjadi pengingat bahwa kebersamaan dan gotong royong merupakan bagian penting dari kehidupan sosial yang perlu dijaga di tengah perubahan zaman.
Dalam sambutannya, BupAAS mengajak masyarakat untuk terus merawat warisan budaya daerah agar tidak terputus oleh pergantian generasi.
Ia juga mengingatkan bahwa pesta rakyat dapat menjadi sarana mempererat silaturahmi, membangun kebersamaan, dan menumbuhkan kembali semangat gotong royong di tengah masyarakat.
“Tradisi dan budaya daerah harus terus kita jaga dan lestarikan. Melalui kegiatan seperti ini, kebersamaan dan persaudaraan masyarakat juga semakin erat,” tutur BupAAS.
Dari Tradisi Leluhur, Menatap Masa Depan Anak
Di sela pesan tentang pelestarian budaya, BupAAS turut menaruh perhatian pada masa depan generasi muda. Menurutnya, menjaga tradisi harus berjalan beriringan dengan mempersiapkan anak-anak agar memperoleh pendidikan yang layak.
Ia mengimbau para orang tua agar memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menempuh pendidikan terbaik.
Sebab, pendidikan menjadi salah satu bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan masa depan tanpa kehilangan akar budaya dan identitas daerahnya.
Pemerintah Kabupaten Bone, lanjutnya, terus memberikan perhatian terhadap sektor pendidikan. Salah satu upaya yang disebutkan ialah mendukung keberadaan Sekolah Rakyat Terintegrasi di Kelurahan Bajoe sebagai bagian dari langkah memperluas akses pendidikan bagi masyarakat.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa masa depan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kesempatan belajar yang terbuka bagi anak-anaknya.
Tradisi boleh diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan meraih cita-cita juga harus terus diperjuangkan.
Menjaga Kesehatan, Merawat Kebersamaan
Selain pendidikan dan kebudayaan, BupAAS mengingatkan warga agar tidak mengabaikan kesehatan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Masyarakat diimbau menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Mengingat kondisi kualitas udara yang kurang baik, warga juga diminta menggunakan masker saat beraktivitas, terutama ketika berada di luar ruangan.
Imbauan tersebut menjadi bagian dari pesan bahwa kebersamaan dalam kegiatan masyarakat perlu dibarengi dengan kepedulian terhadap kesehatan diri sendiri dan orang-orang di sekitar.
Pesta rakyat memang menghadirkan kegembiraan, tetapi menjaga kesehatan tetap menjadi hal penting agar masyarakat dapat terus beraktivitas dan menjalankan kehidupan sehari-hari dengan baik.
Tradisi yang Menyatukan Generasi
Pesta Rakyat Desa Waekeccee turut dihadiri sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) Kabupaten Bone, Camat Lappariaja, Kapolsek, Danramil, para kepala UPT se-Kecamatan Lappariaja, para kepala desa, ketua dan anggota kelompok tani, serta tokoh masyarakat dan tokoh adat setempat.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan bersama. Pemerintah, tokoh adat, keluarga, dan masyarakat memiliki peran dalam memastikan tradisi lokal tetap dikenal dan dipahami oleh generasi penerus.
Di Sungai Lompong Monang, Mabbaje dan Majjala menjadi lebih dari sekadar rangkaian kegiatan pesta rakyat. Tradisi itu menghadirkan kesempatan bagi masyarakat untuk kembali merasakan arti kebersamaan, memperkuat hubungan antarsesama, sekaligus mengenalkan warisan leluhur kepada anak-anak muda.
Sebab, budaya tidak cukup hanya dikenang dalam cerita. Ia perlu dijalankan, dirawat, dan diwariskan melalui kehidupan masyarakat itu sendiri.
Dari Waekeccee, pesan itu kembali mengemuka: menjaga tradisi berarti merawat identitas, mempererat persaudaraan, dan menyiapkan generasi mendatang agar tetap mengenal akar budayanya. (red)















