Saat Akses Terganggu, Harapan pun Menunggu: Keluhan Nasabah BRI di Bone

Sudah 12 tahun Adry mempercayakan urusan keuangannya pada satu tempat, yakni Bank BRI yang ia anggap pasti—tempat yang seharusnya selalu siap, kapan pun ia membutuhkan. Namun hari ini, kepercayaan panjang itu seperti diuji oleh sesuatu yang tak kasat mata: sistem yang tiba-tiba diam. (Nalarmedia.id)
banner 325x300

BONE, NALARMEDIA — Sudah 12 tahun Adry mempercayakan urusan keuangannya pada satu tempat, yakni Bank BRI yang ia anggap pasti—tempat yang seharusnya selalu siap, kapan pun ia membutuhkan. Namun hari ini, kepercayaan panjang itu seperti diuji oleh sesuatu yang tak kasat mata: sistem yang tiba-tiba diam.

Langkahnya bermula dari mesin ATM BRI di Kantor Bupati Bone. Ia datang dengan harapan sederhana—menarik uang untuk kebutuhan yang tak bisa ditunda. Tetapi layar mesin hanya menyuguhkan kegagalan.

Ia mencoba lagi, berharap itu hanya gangguan sesaat. Namun harapan itu perlahan berubah menjadi kebingungan.

Ia berpindah ke ATM BRI di IAIN Bone. Masih dengan harapan yang sama, masih dengan keyakinan bahwa mungkin di tempat lain semuanya akan kembali normal.

Namun hasilnya tetap sama—transaksi tak bisa dilakukan. Seakan ada dinding tak terlihat yang menghalangi aksesnya terhadap sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya sendiri.

Langkahnya belum berhenti. Ia menuju kantor BRI cabang Watampone. Di sana, harapan terakhir ia gantungkan. Tetapi lagi-lagi, sistem seperti enggan bersahabat. Penarikan tak bisa dilakukan.

Ketika teknologi menjadi sandaran, Adry mencoba jalan lain. Ia membuka aplikasi BRImo di ponselnya. Namun layar kecil itu pun tak mampu memberinya jalan keluar.

Gangguan yang sama merambat ke genggaman tangannya. Bahkan transaksi QRIS, yang selama ini menjadi solusi cepat di tengah mobilitas, ikut terhenti.

Di titik itu, bukan hanya soal transaksi yang gagal. Ada waktu yang terbuang, ada kebutuhan yang tertunda, ada rasa tidak nyaman yang perlahan tumbuh.

Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar gangguan teknis. Namun bagi Adry, ini adalah gangguan terhadap ritme hidup—terhadap aktivitas yang bergantung pada kelancaran akses.

Dengan nada yang sederhana, tanpa amarah yang berlebihan, Adry menyampaikan harapannya.

Ia tidak menuntut banyak, hanya meminta agar kejadian ini segera ditindaklanjuti. Agar apa yang ia alami tidak berulang, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga bagi banyak nasabah lain yang mungkin merasakan hal serupa dalam diam.

Di tengah dunia yang semakin digital, kepercayaan adalah hal yang paling berharga. Dan ketika sistem berhenti, yang paling terdampak bukan hanya layanan—tetapi juga rasa percaya itu sendiri.

Kini, harapan Adry sederhana: agar semuanya kembali berjalan. Agar mesin kembali memberi akses, aplikasi kembali merespons, dan aktivitas kembali normal. Karena di balik setiap transaksi, ada kebutuhan nyata, ada kehidupan yang harus terus bergerak.

“Karena kalau ini terus berlarut sangat mengganggu aktivitas dan menghambat pekerjaan,” tutur Adry.

Sementara itu, hingga berita ini ditayangkan belum ada respons dari pihak Bank BRI menyikapi kondisi keluhan nasabah tersebut. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *