BONE, NALARMEDIA – Masjid Songkok Recca, salah satu ikon wisata religi dan budaya Kabupaten Bone, dinilai memiliki potensi besar menjadi model pengembangan pariwisata berkelanjutan di Indonesia.
Penilaian tersebut mengemuka saat tim peneliti yang dipimpin Dr. Mustika Kusuma Basir, S.Psi., M.M., CPS., CHCM., CODP. dan Dr. St. Salmah Sharon, S.E., M.Si., Ak., CA., CSRS., CSRA.
Keduanya merupakan dosen Universitas Ciputra Makassar melakukan penelitian lapangan usai beraudiensi dengan Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. (BupAAS) terkait penguatan sektor pariwisata berkelanjutan.
Kunjungan ke Masjid Songkok Recca menjadi bagian dari penelitian bertajuk “Sinergi Green Leadership, Green Human Capital, dan Green Innovation dalam Meningkatkan Daya Saing Pariwisata Berkelanjutan”, yang bertujuan merumuskan model pengembangan destinasi wisata berbasis keberlanjutan, kolaborasi, dan inovasi.
Masjid Songkok Recca yang mengadopsi desain arsitektur menyerupai Songkok Recca, warisan budaya khas masyarakat Bugis Bone, dinilai sebagai representasi harmonisasi antara nilai budaya, spiritualitas, dan ekonomi kreatif.
Keunikan bangunan tersebut tidak hanya menjadi daya tarik wisatawan, tetapi juga memperkuat identitas Bone sebagai salah satu destinasi wisata budaya dan religi di Sulawesi Selatan.
Ketua tim peneliti, Dr. Mustika Kusuma Basir, mengatakan hasil pertemuan dengan Bupati Bone semakin mempertegas komitmen pemerintah daerah dalam membangun sektor pariwisata yang tidak semata mengejar peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
“Kabupaten Bone memiliki modal sosial, budaya, dan kepemimpinan yang sangat kuat. Kehadiran Masjid Songkok Recca membuktikan bahwa ikon budaya dapat menjadi penggerak ekonomi lokal apabila didukung oleh Green Leadership yang mampu membangun kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, pelaku usaha, dan komunitas. Kepemimpinan seperti inilah yang menjadi fondasi utama dalam mewujudkan destinasi wisata berkelanjutan,” paparnya.
Menurutnya, pembangunan pariwisata modern tidak lagi hanya bertumpu pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kemampuan pemerintah daerah menciptakan ekosistem kolaboratif yang melahirkan inovasi secara berkelanjutan.
Sementara itu, anggota tim peneliti, Dr. St. Salmah Sharon, menegaskan bahwa keberhasilan pariwisata berkelanjutan sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang memiliki kesadaran lingkungan dan kemampuan berinovasi.
“Masjid Songkok Recca menunjukkan bahwa kekuatan budaya lokal dapat menjadi daya saing global apabila dikelola secara profesional. Green Human Capital menjadi faktor penting dalam membentuk masyarakat yang memiliki kesadaran lingkungan, pelayanan wisata yang berkualitas, serta kemampuan mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya. Di sisi lain, Green Innovation akan melahirkan berbagai inovasi produk, layanan, dan pengalaman wisata yang tetap menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Berdasarkan hasil observasi lapangan, tim peneliti menilai Kabupaten Bone memiliki modal yang sangat kuat untuk menjadi model nasional pengembangan Sustainable Tourism Destination.
Potensi tersebut didukung oleh kekayaan budaya, warisan sejarah, destinasi wisata religi, serta komitmen pemerintah daerah dalam membangun daerah secara inklusif dan berkelanjutan.
Penelitian ini juga menekankan pentingnya sinergi antara Green Leadership, Green Human Capital, dan Green Innovation sebagai strategi utama dalam meningkatkan daya saing pariwisata Bone, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Model yang sedang dikembangkan diharapkan menjadi referensi kebijakan bagi Pemerintah Kabupaten Bone dalam memperkuat tata kelola pariwisata berbasis prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Bagi tim peneliti, kunjungan ke Masjid Songkok Recca bukan sekadar observasi terhadap sebuah destinasi wisata, tetapi juga menjadi bukti bahwa pelestarian budaya lokal dapat berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi hijau (green economy).
Dengan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, Kabupaten Bone dinilai memiliki peluang besar untuk tampil sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia yang mampu mengharmoniskan pelestarian budaya, kelestarian lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. (rls/red)















