BONE, NALARMEDIA — Ancaman kemarau panjang menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Bone.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi ketersediaan air, aktivitas pertanian, hingga produksi pangan masyarakat.
Untuk memastikan kesiapan sektor pertanian menghadapi kondisi tersebut, Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. (BupAAS), melakukan kunjungan kerja ke Kampus II Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa di Desa Mappesangka, Kecamatan Ponre, Kabupaten Bone, Jumat (11 September 2026).
Kunjungan tersebut secara khusus membahas ketahanan pangan dalam menghadapi kemarau panjang, sekaligus melihat potensi dan langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah keterbatasan sumber daya air.
Bagi BupAAS, ketahanan pangan tidak hanya berbicara mengenai kemampuan menghasilkan pangan dalam kondisi normal.
Lebih dari itu, ketahanan pangan harus dibangun dengan sistem pertanian yang mampu bertahan menghadapi perubahan cuaca dan berbagai risiko yang mengancam produksi.
“Kita harus mempersiapkan diri menghadapi kemarau panjang. Jangan sampai ketika air mulai berkurang, kita baru bergerak. Antisipasi harus dilakukan sejak awal, terutama bagaimana menjaga ketersediaan air untuk lahan pertanian dan memastikan petani tetap bisa berproduksi,” tegas BupAAS.
Menurutnya, pemerintah perlu memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi dan insan pertanian, untuk menghadirkan solusi yang tepat bagi petani.
BupAAS mendorong agar pendekatan teknologi dan inovasi pertanian terus dikembangkan. Pengelolaan air secara efisien, pemilihan komoditas dan varietas yang lebih adaptif terhadap kondisi kering, serta pengaturan pola tanam menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman kemarau.
Selain itu, optimalisasi sumber-sumber air yang tersedia juga perlu dilakukan. Infrastruktur irigasi, embung, sumur, pompanisasi, hingga sarana pendukung lainnya harus dipastikan dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk menopang kebutuhan pertanian.
“Kita tidak boleh hanya berpikir bagaimana meningkatkan produksi saat air cukup. Kita juga harus memikirkan bagaimana produksi tetap berjalan ketika air terbatas. Karena itu, efisiensi penggunaan air, pompanisasi, embung, dan teknologi pertanian harus kita maksimalkan,” ujar BupAAS.
Ia juga menekankan pentingnya pemetaan wilayah yang memiliki potensi terdampak kekeringan. Dengan pemetaan tersebut, pemerintah dapat menentukan langkah intervensi secara lebih cepat dan tepat, termasuk menentukan wilayah prioritas yang membutuhkan dukungan sarana air maupun pendampingan kepada petani.
Langkah antisipasi lainnya adalah memperkuat komunikasi antara pemerintah daerah, penyuluh pertanian, kelompok tani, perguruan tinggi, serta stakeholder terkait. Informasi mengenai kondisi cuaca, ketersediaan air, hingga rekomendasi pola tanam harus dapat diterima petani secara cepat.
BupAAS berharap Kampus II Polbangtan Gowa di Mappesangka tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga menjadi salah satu ruang lahirnya inovasi pertanian yang dapat diterapkan langsung di tengah masyarakat.
“Kita ingin pertanian Bone semakin kuat, mandiri dan mampu menghadapi tantangan. Kampus ini harus menjadi bagian dari ekosistem pertanian Bone, tempat kita belajar, berinovasi dan mencari solusi bersama untuk kepentingan petani,” katanya.
Kunjungan kerja tersebut sekaligus menegaskan komitmen Pemkab Bone untuk menjaga sektor pertanian sebagai salah satu fondasi utama perekonomian daerah.
Di tengah ancaman kemarau panjang, strategi ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan produksi. Diperlukan kesiapan infrastruktur, teknologi, sumber daya manusia, pengelolaan air, serta kolaborasi lintas sektor agar petani tetap mampu menghasilkan pangan dan masyarakat tetap memperoleh pasokan pangan yang aman.
Bagi Bone, menjaga pangan berarti menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat. Karena itu, antisipasi terhadap kemarau panjang menjadi pekerjaan bersama yang harus dipersiapkan sejak sekarang. (red)















