Urban Farming Ayam Alope, Fapet Unhas Buka Ruang Kemandirian bagi Penyandang Disabilitas

Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Fapet Unhas) menghadirkan pendekatan berbeda melalui program Urban Farming Terintegrasi Ayam Alope Unhas-1.
banner 325x300

MAKASSAR, NALARMEDIA — Pemberdayaan penyandang disabilitas tidak selalu harus dimulai dari ruang kelas atau pelatihan formal.

Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Fapet Unhas) menghadirkan pendekatan berbeda melalui program Urban Farming Terintegrasi Ayam Alope Unhas-1.

Program tersebut dirancang untuk menghadirkan aktivitas rutin yang produktif, sekaligus membuka ruang bagi penyandang disabilitas untuk belajar, berinteraksi dengan lingkungan, dan membangun kemandirian sesuai kemampuan masing-masing.

Melalui sistem urban farming ini, peserta diperkenalkan dengan berbagai aktivitas sederhana namun bermakna.

Mulai dari memberi pakan dan minum ayam, mengamati kondisi ternak, merawat tanaman, menyiram, hingga menjaga kebersihan area farming.

Aktivitas tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan pangan dan nilai ekonomi, tetapi juga menjadi sarana melatih konsentrasi, koordinasi, rasa tanggung jawab, serta kemandirian.

Perwakilan Tim Low Carbon Development Initiative-Innovation and Technology Fund (LCDI-ITF) Fakultas Peternakan Unhas, Dr. Ir. Zulkharnaim, S.Pt., M.Si., IPM, mengatakan kegiatan farming dapat memberikan aktivitas yang teratur dan produktif bagi penyandang disabilitas.

“Bagi penyandang disabilitas, farming menyediakan aktivitas rutin yang produktif dan dapat disesuaikan dengan kemampuan. Bagi pendamping, hasil dari aktivitas farming dapat dikelola untuk mendukung keberlanjutan program serta menciptakan nilai ekonomi dari produk yang dihasilkan,” jelas Zulkharnaim.

Ayam Alope Unhas-1 Jadi Pilihan

Dalam program ini, Fapet Unhas memilih Ayam Alope Unhas-1 sebagai salah satu komponen utama.

Ayam tersebut dinilai memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan tropis dan cocok dikembangkan dalam sistem urban farming dengan keterbatasan ruang.

Zulkharnaim menjelaskan, Ayam Alope memiliki karakter yang menarik karena memadukan efisiensi pemeliharaan dengan cita rasa yang menyerupai ayam kampung.

“Ibaratnya, kita memelihara ayam broiler yang efisien pemeliharaannya, tetapi dengan rasa ayam kampung,” ujarnya.

Menurutnya, Ayam Alope juga merupakan hasil penggabungan genetik ayam asli Sulawesi. Karakter tersebut membuat ayam memiliki ketahanan terhadap kondisi lingkungan tropis, termasuk saat menghadapi suhu panas.

“Ayam Alope juga merupakan hasil gabungan genetik ayam asli di Sulawesi, sehingga ketahanannya terhadap lingkungan, khususnya saat panas, tidak diragukan lagi,” lanjutnya.

Bukan Sekadar Menerima Manfaat

Konsep urban farming yang dikembangkan Fapet Unhas tidak berhenti pada pemeliharaan ayam. Sistem tersebut mengintegrasikan ternak dan tanaman dalam satu rangkaian aktivitas.

Pendekatan itu memungkinkan pemanfaatan ruang dan sumber daya secara lebih efisien. Pada saat yang sama, terdapat peluang untuk mengelola hasil samping serta limbah organik sehingga dapat mendukung keberlanjutan sistem farming.

Yang lebih penting, penyandang disabilitas ditempatkan sebagai pelaku utama dalam aktivitas produksi dan pembelajaran.

Mereka tidak diposisikan sekadar sebagai objek penerima manfaat, tetapi sebagai individu yang memiliki peran, kesempatan untuk belajar, berinteraksi dengan lingkungan, dan mengambil bagian dalam aktivitas secara mandiri.

Dengan demikian, urban farming menjadi lebih dari sekadar kegiatan bercocok tanam dan beternak.

Ia menjadi ruang untuk menumbuhkan rasa percaya diri, tanggung jawab, sekaligus membuka peluang ekonomi.

Program ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, khususnya melalui penguatan inklusi dan pemberdayaan penyandang disabilitas.

Sosialisasi Program Urban Farming Terintegrasi Ayam Alope Unhas-1 digelar Tim LCDI-ITF Fapet Unhas di Sentra Wijaya Makassar, Jumat (11 September 2026).

Dari kandang ayam, tanaman yang dirawat, hingga aktivitas sederhana sehari-hari, program ini membawa pesan bahwa pemberdayaan sejatinya bukan sekadar memberikan bantuan.

Yang lebih penting adalah menghadirkan ruang agar setiap orang dapat tumbuh, berkarya, dan memiliki kesempatan untuk mandiri. (Fapet/Aya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *