LUWU TIMUR, NALARMEDIA — Harsan Hamzarullah tengah bersantai, ketika penulis berkesempatan berbincang, di kediamannya, Malili, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (17 September 2026) malam. Terlihat di jam handphone pukul 20.41 WITA.
Pria yang akrab disapa Accang merupakan putra daerah Kabupaten Luwu Timur (Lutim), Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), sekaligus salah satu dari ribuan karyawan yang bekerja di PT Vale Indonesia Tbk, MIND ID grup.
Total ada 10.252 jumlah tenaga kerja di MIND ID grup. Di mana sekitar 3.086 karyawan yang menggantungkan harapan dan asap dapur keluarganya di PT Vale Indonesia.
Kurang lebih 54 persen di antaranya merupakan putra-putri lokal Luwu Timur serta 40 persen lainnya adalah orang-orang kelahiran Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.
Tidak ada seragam kerja. Tidak ada aktivitas shift. Tidak ada deru rutinitas pekerjaan yang harus segera dituntaskan. Ia tengah santai berada di rumah, menikmati waktu libur bersama keluarga tercinta.
Bagi sebagian orang, hari libur mungkin sekadar kesempatan untuk beristirahat. Namun bagi pekerja dengan sistem shift seperti Accang, waktu di rumah memiliki arti yang lebih dalam: kesempatan untuk benar-benar hadir bagi keluarga sebelum kembali menjalani rutinitas pekerjaan.
Sabtu (19 September 2026) pagi, Harsan dijadwalkan kembali memulai aktivitasnya. Jam menunjukkan pukul 06.00 WITA ketika ia harus bersiap menjalani pekerjaan hingga pukul 14.00 WITA.
Begitulah siklus kehidupan yang dilakoni Accang selama bertahun-tahun bekerja di dunia pertambangan. Ketika mendapat shift pagi.
Bagi yang mendapat giliran shift sore, mulai bekerja dari pukul 14.00 WITA hingga 22.00
WITA. Untuk shift malam dari pukul 22.00 sampai 06.00 WITA.
Lelaki kelahiran Malili, 4 Juli 1984 ini telah menjadi bagian dari keluarga besar PT Vale Indonesia Tbk, MIND ID grup, sejak 8 Mei 2005.
Lebih dari dua dekade berlalu. Accang sudah merasakan manfaat besar kehadiran PT Vale Indonesia dalam perjalanan hidupnya.
Ketika pertama kali mengenakan identitas sebagai pekerja di MIND ID grup, Accang masih seorang pria berstatus lajang. Belum menikah.
Kini, perjalanan waktu telah mengantarkannya bertemu pujaan hati dan menjadikannya sebagai seorang ayah dengan tiga anak dari istri, Hj. Nur Rahmah.
Ada banyak hal yang berubah dalam hidupnya selama rentang waktu tersebut. Tetapi satu hal yang tetap: rutinitasnya sebagai pekerja dan komitmennya untuk memberikan kehidupan terbaik bagi keluarga.
Lima Hari Bekerja, Dua Hari Bersama Keluarga
Dalam perbincangan dengan penulis, sembari menyeruput kopi, Accang bercerita tentang bagaimana pola kerja di PT Vale Indonesia, MIND ID grup yang memberikan ruang bagi dia untuk menjalankan dua peran sekaligus: sebagai pekerja dan sebagai kepala keluarga.
Untuk jam kerja reguler, ia menjalani delapan jam kerja. Jika terdapat tambahan waktu kerja, maka jam tersebut diperhitungkan sebagai lembur kerja oleh perusahaan.
“Jadi lima hari kerja, dua hari off, tiga shift,” ucap Accang.
Sistem tersebut membuat kehidupan pekerja berjalan dalam sebuah siklus. Pagi, sore dan malam.
Namun di antara siklus tersebut, ada waktu yang menurut lelaki bertinggi 166 Cm ini sangat berharga: waktu untuk beristirahat dan berkumpul bersama keluarga terkasih.
“Perusahaan memberikan kita cukup waktu untuk beristirahat, kumpul dengan keluarga sebelum kembali memulai lagi siklus hari kerja, pagi, sore dan malam,” ungkapnya.
Kalimat sederhana itu menggambarkan sesuatu yang sering kali tidak terlihat dari aktivitas industri: di balik seorang pekerja yang datang menjalankan tugas, ada keluarga yang menunggu kepulangannya di rumah.
Ada anak-anak yang membutuhkan perhatian ayahnya. Ada pasangan yang menanti waktu bersama. Ada rumah yang menjadi tempat mengisi kembali tenaga sebelum kembali bekerja.
Kontribusi ke Negara
MIND ID grup punya peran penting dalam membangun Bumi Pertiwi dengan berkontribusi pada keuangan negara.
Kontribusi MIND ID grup meliputi pajak, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dan dividen dengan total nilai Rp92,56 triliun.
Proyek strategis MIND ID grup yang dikerjakan juga tersebar di sejumlah wilayah Indonesia, seperti yang dijalankan Antam dan Inalum di Mempawah, Kalimantan Barat berupa Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I untuk kapasitas 1 juta ton alumina dan SGAR Fase 2 untuk kapasitas 1 juta ton alumina.
Lalu, Antam di Halmahera Timur, Maluku Utara berupa Smelter RKEF kapasitas 88 ktNI dan smelter HPAL berkapasitas 55 ktNI MHP.
Kemudian PT Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur berupa smelter tembaga dan PMR – PTFI berkapasitas 1,7 mtpa Conc dan 6 Ktpa Anode Slime serta PLTG – PTFI berkapasitas 270 MW.
Bukit Asam di Tanjung Enim, Sumatera Selatan berupa angkutan batu bara TE-keramasan berkapasitas 20 juta ton.
Lalu Inalum di Mempawah, Kalimantan Barat berupa Smelter aluminium baru berkapasitas 600 ribu ton.
Untuk PT Vale Indonesia di Sulsel, Sulteng, dan Sultra berupa Indonesia Growth Project (IGP). Untuk IGP Pomalaa berkapasitas 120 ktNI/tahun dalam MHP, Untuk IGP Sorowako berkapasitas 60 ktNI/tahun dalam MHP, dan IGP Morowali berkapasitas 66 ktNI/tahun dalam MHP.
Lingkungan Berkelanjutan
Tak sekadar menambang, MIND ID grup juga memiliki komitmen tinggi terhadap lingkungan berkelanjutan di wilayah area kerja.
Langkah tersebut terlihat dalam pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab tanpa mengorbankan warisan bagi generasi masa depan.
Penulis berkesempatan menyambangi Lamella Graviti Settler (LGS) milik PT. Vale Indonesia, beberapa waktu lalu. Kawasan ini berfungsi mengolah air limpasan tambang.

Area LGS ini terintegrasi kurang lebih 122 kolam pengendapan. Fungsinya, mengolah air limpasan tambang agar aman dan tidak berbahaya bagi lingkungan.
Penanggung Jawab LGS, Dian Ekawati menjelaskan, LGS beroperasi sesuai Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 09 Tahun 2006 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pertambangan Bijih Nikel.
Maka tidak heran, Danau Matano yang ada di Luwu Timur yang merupakan daerah wilayah kerja MIND ID grup menjadi saksi, airnya tetap bersih dan jernih sampai sekarang.
Lahan Tambang Jadi Rindang
MIND ID grup melalui PT Vale Indonesia membuktikan bila lahan tambang bisa kembali rindang. Lokasinya, di Taman Kehati Sawerigading Wallacea atau Taman Keanekaragaman Hayati.
Taman Keanekaragaman Hayati yang dikelola MIND ID ini seluas 75 hektare. Dahulunya wilayah tersebut merupakan area tambang yang sudah direklamasi.
Di dalam Taman Kehati, terdapat bagian Nursery. Termasuk Arboretum seluas 5 hektare dengan jenis tanaman yang sudah terkoleksi 74 jenis tanaman lokal. Mulai tanaman endemik, langka, hingga yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
Kawasan Nursery yang teduh ini merupakan area pertambangan pada 1969. Perlahan kondisinya berubah 100 persen. Kini, kawasan hijau dan asri.
Berdasarkan data papan informasi yang tertera di kawasan tersebut, pohon yang tumbuh di areal konsesi PT. Vale Indonesia tersebut, seperti jenis Gaharu, Eboni, Kayu Angin, Betao, Kayu Mata Kucing, Kayu Hitam, Bitti, Kumea, Matoa, Meranti, Tapi-tapi, Tembesu, dan aneka jenis pohon lainnya.
Menjadi bukti nyata bila konsep penutupan tambang nikel bisa kembali menjadi kawasan hijau.
Pemberdayaan untuk Masa Depan
Langkah pengelolaan sumber daya mineral dapat berjalan seiring dengan upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Seperti yang ditunjukkan MIND ID grup.
Tambang bisa ramah lingkungan. Warga setempat diberdayakan. Sudah ada bukti. Bukan semata janji.
Semangat keberlanjutan yang digaungkan MIND ID grup bukan semata dipandang dari perusahaan menjalankan operasional kerja yang dilaksanakan. Lebih dari itu, perusahaan harus hadir memberikan dampak positif dan membuka ruang kemandirian bagi kehidupan masyarakat.
Head of External Relations Regional & Growth PT Vale Indonesia Tbk, Endra Kusuma menuturkan bila pendekatan partisipatif dan berbasis kebutuhan masyarakat yang diterapkan sebagai wujud keberlanjutan melalui pemberdayaan berbasis potensi lokal.
Di Sulawesi Selatan, MIND ID grup melalui PT Vale mengembangkan kawasan agrowisata berbasis komoditas nanas di Desa Tabarano.
Sementara di Morowali, Sulawesi Tengah mendorong pengembangan pertanian organik yang telah menghasilkan beras bersertifikat.
Sedangkan di Kolaka, Sulawesi Tenggara, diwujudkan dengan mengembangkan Sekolah Lapang Kakao sebagai upaya peningkatan produktivitas, kualitas, dan nilai tambah hasil pertanian masyarakat.
“Keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang bagaimana kami mengelola sumber daya alam secara bertanggung jawab, tetapi juga bagaimana masyarakat di sekitar wilayah operasi memiliki kesempatan untuk tumbuh, berkembang, dan membangun masa depannya secara mandiri,” ungkapnya. (Muhammad Ashri Samad)















