Dari Energi Hijau ke Hilirisasi, PT Vale Indonesia Menyalakan Masa Depan Berkelanjutan

Suasana Bendungan PLTA Balambano, yang terletak di Desa Balambano, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan. (Foto: Muhammad Ashri Samad/Nalarmedia.id)
banner 325x300

Di balik nikel yang dihasilkan, ada tanggung jawab untuk menjaga bumi. PT Vale Indonesia menguatkan hilirisasi tak sekadar produktif, tetapi keberlanjutan pascatambang dan berpijak pada energi hijau.

PENULIS mendapat undangan dan berkesempatan menyambangi Sorowako, salah satu wilayah kerja PT Vale Indonesia Tbk untuk menambang dan mengolah nikel di Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu.

Sebelum naik ke bus berwarna putih, penulis bersama rombongan diberikan perlengkapan safety yang wajib dikenakan. Ada helm berwarna putih, rompi berwarna jingga, dan sepatu berwarna coklat tua. Setelah semuanya terpasang, satu per satu awak media naik ke kendaraan yang sudah disiapkan.

Jam pada ponsel menunjukkan pukul 13.36 WITA, ketika bus yang Kami tumpangi tiba di bendungan PLTA Balambano. Lokasinya di Desa Balambano, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan. Letaknya berjarak kurang lebih 30 Km dari Sorowako.

Meskipun kondisi matahari sedang terik, tak terlalu bikin gerah. Lantaran ada angin sepoi yang berembus di sekitar lokasi yang masih asri. Ada banyak pohon rindang.

Pemandangan yang disajikan di Bendungan PLTA Balambano pun bikin takjub. Pasalnya, elevasi puncak bendungan kurang lebih 167 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan panjang puncak sekitar 350 meter.

Supervisor Hydro Operation PT Vale, Irwan Nukuhaly mengatakan bila PLTA tersebut memanfaatkan Sungai Larona, yang mendapat pasokan air dari aliran tiga danau, yakni Matano, Mahalona, dan Towuti.

PLTA Balambano beroperasi mulai 1999 merupakan salah satu sumber energi hijau yang menghasilkan produksi rata-rata 110 MW untuk dioperasikan PT Vale Indonesia guna menopang aktivitas pertambangan dan pengolahan nikel di kawasan Sorowako, Kabupaten Luwu Timur.

PT Vale Indonesia dalam mendukung kegiatan operasionalnya mengoperasikan tiga PLTA. Selain PLTA Balambano, ada juga PLTA Larona yang beroperasi sejak 1979 dengan kapasitas 165 MW. Lalu, PLTA Karebbe yang beroperasi sejak 2011 dengan kapasitas 90 MW.

Ketiga PLTA ini memiliki peran penting bagi pencapaian produktivitas PT Vale Indonesia. Utamanya sebagai pasokan energi bersih bagi pabrik pengolahan/smelter nikel di Sorowako.

Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto mengungkapkan, dalam menjaga emisi karbon pada proses hilirisasi nikel, Vale memanfaatkan energi bersih melalui pengoperasian tiga PLTA.

Tiga PLTA PT Vale Indonesia tersebut menopang smelter nikel yang dibekali teknologi kekinian, yakni Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).

RKEF merupakan teknologi pengolahan nikel yang menggabungkan tungku putar dan tungku listrik untuk mengubah bijih nikel menjadi produk bernilai tambah melalui proses pengeringan, reduksi, dan peleburan.

Kinerja Positif

PT Vale Indonesia terus menunjukkan kinerja positif terhadap produksi bijih nikel. Tercatat pada 2023 sebanyak 13.452.663 ton. Lalu di 2024 bertambah 14.668.236 ton. Setahun berikutnya naik menjadi 15.918.295 ton.

Komitmen hilirisasi yang digaungkan PT Vale Indonesia bukan semata wacana. Hal itu dibuktikan dengan aksi nyata.

PT Vale Indonesia mengubah hasil kekayaan alam bijih nikel yang dikeruk di wilayah Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan menjadi produk bernilai tinggi. Dalam bentuk nikel matte.

Produksi nikel matte PT Vale Indonesia mencatatkan peningkatan setiap tahunnya. Pada 2023 sebanyak 70.728 ton. Lalu di 2024 meningkat 71.311 ton. Kemudian di 2025 menjadi 72.027 ton.

Kondisi ini menunjukkan bila PT Vale Indonesia tidak sekadar menghasilkan bijih mentah. Melainkan memproduksi komoditas bernilai tinggi.

Dalam rangka pengembangan hilirisasi nikel, PT Vale Indonesia tidak semata beroperasi di Sorowako. Kini, melakukan ekspansi ke Pomalaa, Sulawesi Tenggara dan Morowali, Sulawesi Tengah.

Berdasarkan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang berlaku hingga 28 Desember 2035 menunjukkan izin cakupan total wilayah konsesi PT Vale Indonesia seluas 118.017 hektare.

Luasan wilayah konsesi PT Vale Indonesia tersebar di tiga blok operasi yang berlokasi di tiga provinsi; Blok Sorowako, Provinsi Sulawesi Selatan seluas 70.566 hektare, Blok Bahodopi, Provinsi Sulawesi Tengah seluas 22.699 hektare, dan Blok Pomalaa seluas 24.752 hektare.

Kata Bernardus Irmanto, perusahaan berkomitmen dan memastikan bila kegiatan operasional berjalan seiring dengan upaya ramah lingkungan.

Hilirisasi yang dijalankan PT Vale Indonesia dalam rangka meningkatkan nilai tambah tak akan mengorbankan masa depan.

Produksi Bibit Pohon

Komitmen PT Vale Indonesia terhadap keberlanjutan pascatambang begitu nyata. Bisa dilihat langsung di kawasan Taman Kehati Sawerigading Wallacea.

Ya, Taman Kehati Sawerigading Wallacea merupakan titik lainnya yang Kami kunjungi di area kerja PT. Vale Indonesia. Area ini menyita perhatian dan juga bikin takjub.

Ada sambutan teduh dan asri ketika penulis menginjakkan kaki di kawasan tersebut. Karena ini merupakan bagian dari pengembangan modern Nursery PT Vale Indonesia.

Meski siang hari, tetapi terik matahari tak menyengat. Ada angin sepoi di balik pepohonan hijau dan rindang yang tumbuh di lahan bekas kawasan pertambangan pada 1969 tersebut.

Siapa sangka, di atas lahan bekas tambang ini tumbuh 74 jenis tanaman lokal yang dirawat sepenuh hati oleh PT. Vale Indonesia.

Dari papan informasi berukuran 2×1 meter yang terpasang di kawasan tersebut terdapat sejumlah nama pohon, seperti Kayu Tanduk, Ketapi, Kumea, Malotus, Matoa, Meranti, Popon, Aghatis, Bitti, Gaharu, Kayu Angin, Taluyang, Tengkawang, Trema Angrung, Uru, Tapi-Tapi, dan masih banyak pohon lokal lainnya.

Bukan hanya pohon, di kawasan tersebut juga hidup puluhan ekor rusa. Ada yang ukurannya kecil hingga yang besar. Semuanya terlihat sehat.

Tidak jauh dari situ, masih di kawasan Taman Kehati juga berdiri Nursery. Tempat ini bisa memproduksi 700 ribu bibit pohon per tahun.

Rusa hidup sehat di kawasan Taman Kehati Sawerigading Wallacea yang merupakan area lahan bekas kawasan pertambangan pada 1969. (Foto: Muhammad Ashri Samad/Nalarmedia.id)

Bibit tanaman yang dihasilkan di area tersebut dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan dan penanaman kembali di lahan bekas tambang PT Vale Indonesia nantinya.

Team Leader Nursery Taman Kehati, Harun Tandioga mengemukakan, area yang sudah terkelola seluas kurang lebih 15 hektare dari total lahan 70 hektare.

Ramah Lingkungan

Bukti nyata bila tambang bisa ramah lingkungan juga dirasakan dan dilihat langsung Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan P. Roeslani.

Beberapa waktu sebelumnya, Rosan Roeslani menginjakkan kaki di PT Vale Indonesia (PT Vale) Indonesia Growth Project (IGP) Morowali.

Kata Rosan, pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan industri dan keberlanjutan lingkungan.

Salah satu area yang menjadi atensinya adalah fasilitas nursery atau pusat pembibitan tanaman yang mendukung program rehabilitasi dan reklamasi lahan pascatambang.

Area Nursery PT Vale Indonesia yang bisa memproduksi 700 ribu bibit pohon per tahun. (Foto: Muhammad Ashri Samad/Nalarmedia.id)

“Hal yang paling saya perhatikan adalah bagaimana aspek sustainability yang menjaga keseimbangan antara lingkungan dan sosial sangat diperhatikan di sini. Kita melihat adanya fasilitas pembibitan, serta penerapan best mining practices dengan standar internasional. Harapannya, hal tersebut dapat terus dijaga,” ungkap Rosan.

Hadirkan Keseimbangan

Sementara itu, Specialist Environment Sustainability PT Vale Indonesia, Rizki Pratiwi menegaskan bila pertumbuhan harus berjalan beriringan dengan inovasi teknologi, perlindungan lingkungan, serta peningkatan manfaat bagi masyarakat.

Transformasi yang dilakukan PT Vale Indonesia, kata Rizki tidak sekadar menyasar aspek bisnis.

Perusahaan berupaya membangun keseimbangan antara kepentingan ekonomi, lingkungan, dan sosial.

“Jadi PT Vale Indonesia ingin bertumbuh dengan cara yang berkelanjutan. Bagaimana menjaga keseimbangan antara people, planet, dan profit,” ucap Rizki. (Muhammad Ashri Samad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *