Urban Farming Terintegrasi Jadi Target DP2 Makassar Tahun Ini, Segini Jumlahnya

Dinas Perikanan dan Pertanian (DP2) Kota Makassar menargetkan pengembangan 15 lokasi urban farming terintegrasi sepanjang 2026. Program tersebut menjadi salah satu sasaran kinerja DP2 untuk memperkuat ketahanan pangan di wilayah perkotaan.
banner 325x300

MAKASSAR, NALARMEDIA .ID – Dinas Perikanan dan Pertanian (DP2) Kota Makassar menargetkan pengembangan 15 lokasi urban farming terintegrasi sepanjang 2026. Program tersebut menjadi salah satu sasaran kinerja DP2 untuk memperkuat ketahanan pangan di wilayah perkotaan.

Kepala DP2 Kota Makassar, Aulia Arsyad, mengatakan pengembangan urban farming dilakukan dengan melibatkan kelompok masyarakat di tingkat RT/RW. Kelompok tani, Kelompok Wanita Tani (KWT), dan Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) menjadi bagian dari pelaksanaan program tersebut.

“Kalau untuk urban farming, kegiatan urban farming di tingkat RT/RW semua sudah berjalan,” kata Aulia di Balai Kota Makassar, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Senin (27/7/2026).

Menurut Aulia, urban farming terintegrasi tidak hanya diarahkan untuk budidaya tanaman. Konsep tersebut menggabungkan sektor pertanian, peternakan, perikanan, hingga pengelolaan sampah dalam satu kawasan.

Untuk 15 lokasi yang menjadi target tahun ini, DP2 Makassar mulai menyalurkan bantuan secara bertahap. Sejumlah fasilitas telah diterima kelompok penerima manfaat, sedangkan bantuan berupa bibit, benih, dan media tanam masih dalam proses pengadaan.

“Khusus untuk yang 15 lokasi urban farming terintegrasi, pemberian bantuan kandang dan kolam ikan sudah tersalur. Yang belum masih bibit, benih, dan media tanam. Jadi, kalau untuk 15 lokasi sudah berjalan,” ujarnya.

Aulia menjelaskan, penentuan lokasi tidak berdasarkan pembagian merata di setiap kecamatan. Pemerintah menyesuaikan lokasi dengan ketersediaan lahan agar seluruh komponen urban farming dapat diterapkan secara terpadu.

“Untuk 15 lokasi ini, ada kecamatan yang punya dua kelompok. Jadi tidak masing-masing kecamatan, karena tergantung lokasinya. Kan kalau misalnya di Kecamatan Wajo tidak ada lahan sama sekali,” jelasnya.

Selain kawasan terintegrasi, aktivitas urban farming yang dikelola secara mandiri oleh kelompok masyarakat di lingkungan RT/RW juga terus berjalan. Pemerintah memberikan bantuan sesuai kebutuhan masing-masing kelompok untuk mendukung keberlanjutan kegiatan.

Salah satu contoh berada di Kelurahan Minasaupa, Kecamatan Rappocini. Kawasan urban farming tersebut telah menghasilkan sejumlah komoditas sayuran seperti bayam, pakcoy, dan kangkung, sekaligus memiliki fasilitas pengolahan kompos.

DP2 Makassar juga memperkuat pengembangan berdasarkan subsektor. Pada bidang peternakan, bantuan telah diberikan kepada 12 kelompok, sementara kebutuhan sektor pertanian seperti benih dan bibit masih menunggu proses pengadaan.

“Untuk pertanian, masih menunggu proses belanja benih, bibit, dan semua kelengkapan untuk urban farming,” kata Aulia.

Di sektor perikanan, DP2 telah membentuk 10 Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan). Kelompok tersebut menjadi salah satu unsur dalam pengembangan urban farming yang mengintegrasikan berbagai kegiatan produksi pangan di kawasan perkotaan.

Selain 15 lokasi tersebut, Pemkot Makassar mengembangkan kawasan Edufarm di Barombong dan Sudiang. Edufarm Barombong masih dalam tahap pengembangan, sedangkan di Sudiang proses penimbunan lahan telah selesai dan dilanjutkan dengan pemeliharaan bangunan serta pembangunan kandang dan fasilitas pendukung.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, sebelumnya mendorong pengembangan pertanian perkotaan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan. Ia juga mengusulkan pembangunan percontohan greenhouse untuk mendorong masyarakat memanfaatkan lahan terbatas dengan teknologi pertanian modern. Munafri menilai pengembangan urban farming dapat dipadukan dengan pengelolaan sampah untuk membangun sistem pangan perkotaan yang lebih terintegrasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *