Karhutla Kepung Puulemo dan Baula, Vale Indonesia Kerahkan Tim! Total Area Terdampak Capai 121 Hektare

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Puulemo dan Baula, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, menjadi perhatian serius PT Vale Indonesia Tbk.
banner 325x300

KOLAKA, NALARMEDIA.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Puulemo dan Baula, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, menjadi perhatian serius PT Vale Indonesia Tbk.

Perusahaan tambang nikel yang merupakan bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID) ini mengintensifkan upaya penanganan untuk mengendalikan api sekaligus mencegah kebakaran meluas.

Berdasarkan pemetaan sementara, kebakaran di Puulemo mencakup area seluas 31,68 hektare, sedangkan di Baula diperkirakan mencapai 90 hektare. Dengan demikian, total area terdampak diperkirakan mencapai 121,68 hektare.

Kedua lokasi tersebut berada di sekitar area Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa. Area kebakaran mencakup wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) Vale Indonesia, dengan sebagian area di Baula juga berada dalam wilayah Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH).

Di tengah kondisi medan yang menantang, tim Fire and Emergency Services (FES) Vale Indonesia terus berjibaku melakukan penanganan kebakaran di Puulemo bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Sementara itu, penanganan di Baula masih membutuhkan persiapan akses dan asesmen lapangan sebelum langkah lanjutan dapat ditentukan.

Head of Pomalaa Project Vale Indonesia, Mohammad Rifai, menegaskan bahwa perusahaan mengerahkan kemampuan dan sumber daya yang tersedia untuk mempercepat penanganan karhutla secara aman, terukur, dan terkoordinasi.

“Tim FES Vale Indonesia terus bekerja bersama BPBD untuk menangani kebakaran di Puulemo. Pada saat yang sama, kami sedang mempersiapkan respons terhadap kebakaran di Baula, mulai dari pemetaan akses menuju lokasi, identifikasi sumber air terdekat, asesmen lapangan, hingga koordinasi dengan pemerintah dan instansi terkait,” tutur Rifai.

Akses Sulit Jadi Tantangan di Baula

Keterbatasan akses menuju titik api menjadi salah satu kendala utama dalam penanganan karhutla di Baula. Untuk mengatasi persoalan tersebut, Vale Indonesia berkoordinasi dengan tim eksplorasi guna mengidentifikasi jalur yang memungkinkan dilalui personel dan peralatan menuju lokasi kebakaran.

Perusahaan juga memetakan sumber air terdekat serta menyiapkan asesmen lapangan untuk memperoleh gambaran aktual mengenai kondisi medan dan perkembangan api. Kegiatan ini akan melibatkan tim terkait dengan pendampingan personel FES Vale Indonesia.

Hasil asesmen tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan metode penanganan yang paling efektif, sekaligus memastikan keselamatan seluruh personel yang bertugas.

“Setiap waktu sangat berarti dalam situasi seperti ini. Namun, keselamatan masyarakat dan seluruh personel yang terlibat harus tetap menjadi prioritas. Karena itu, kami memastikan setiap langkah dilakukan berdasarkan kondisi aktual di lapangan dan melalui koordinasi yang kuat dengan seluruh pihak,” kata Rifai.

Siapkan Sekat Bakar hingga Opsi Dukungan Udara

Selain mengerahkan personel untuk penanganan langsung, Vale Indonesia menyiapkan dukungan peralatan dan tenaga apabila pembuatan sekat bakar diperlukan untuk memutus jalur bahan bakar api dan membatasi penyebaran kebakaran.

Pemantauan juga dilakukan secara berkala melalui pembaruan data harian yang mencakup pemetaan wilayah terdampak, dokumentasi visual, serta pencatatan koordinat titik kebakaran. Data tersebut menjadi landasan penting dalam memantau perkembangan situasi dan menentukan langkah penanganan berikutnya.

Untuk memperkuat respons di Baula, Vale Indonesia akan mengeskalasikan kondisi karhutla kepada pemerintah daerah dan instansi terkait, termasuk Satuan Tugas Penanganan Karhutla, BPBD, Pemerintah Kabupaten Kolaka, serta Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). Pelaporan juga dilakukan melalui sistem pemantauan karhutla Sipongi.

Dengan luas area terdampak yang diperkirakan mencapai 90 hektare di Baula, perusahaan turut mendorong dukungan tambahan dari unsur terkait melalui koordinasi dengan Satgas Karhutla dan aparat kewilayahan.

Apabila kondisi medan tidak memungkinkan penanganan melalui jalur darat, dukungan udara juga dapat dipertimbangkan sebagai alternatif. Namun, keputusan mengenai metode tersebut akan ditentukan berdasarkan hasil asesmen lapangan, kebutuhan operasional, efektivitas penanganan, kondisi lingkungan, keselamatan, serta ketentuan perizinan yang berlaku.

Upaya terpadu ini diharapkan dapat memperkuat pengendalian karhutla di sekitar wilayah IGP Pomalaa. Koordinasi antara perusahaan, pemerintah, dan instansi terkait menjadi faktor penting agar penanganan berlangsung efektif, terukur, dan tetap mengutamakan keselamatan. (ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *