Cuan dari Sampah! Bank Sampah Makassar Raup Rp903 Juta, Target Tembus Rp2,5 Miliar

Bank Sampah Pusat (BSP) Kota Makassar berhasil meraup pendapatan Rp903,95 juta hingga Juli 2026 dari penjualan sampah anorganik.
banner 325x300

MAKASSAR, NALARMEDIA.ID – Jangan buru-buru membuang sampah anorganik.

Di tangan pengelolaan yang tepat, botol plastik, kardus, kertas hingga logam bisa berubah menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.

Buktinya, Bank Sampah Pusat (BSP) Kota Makassar berhasil meraup pendapatan Rp903,95 juta hingga Juli 2026 dari penjualan sampah anorganik.

Angka ini melonjak sekitar 146 persen dibandingkan pendapatan sepanjang 2025 yang tercatat sebesar Rp367 juta.

Capaian tersebut menjadi sinyal bahwa sampah bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga memiliki potensi ekonomi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Helmy Budiman, mengatakan pemerintah menargetkan pendapatan bank sampah mencapai Rp2,5 miliar hingga akhir 2026.

“Kita targetkan tahun ini pendapatan dari Bank Sampah capai Rp2,5 miliar,” kata Helmy, Kamis (6 Agustus 2026).

Untuk mengejar target tersebut, Pemkot Makassar terus memperluas jaringan Bank Sampah Unit (BSU). Jumlahnya meningkat dari 433 unit pada 2025 menjadi 670 unit pada 2026.

Perluasan jaringan ini diharapkan memudahkan masyarakat menyetorkan sampah anorganik sekaligus memperkuat sistem pengumpulan sampah bernilai jual di berbagai kawasan.

“Kami ingin masyarakat lebih mudah menyalurkan sampah anorganiknya. Karena itu, Bank Sampah Unit terus kami perkuat agar menjadi titik pengumpulan di setiap kawasan,” ujarnya.

Botol Plastik hingga Tembaga Bisa Jadi Uang

Helmy menegaskan, banyak jenis sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi jika dipilah dengan benar. Material yang dapat disetorkan antara lain botol plastik, berbagai kemasan, jeriken, kardus, kertas, logam, aluminium, tembaga, kuningan hingga botol kaca bening.

Karena itu, masyarakat didorong untuk mulai memilah sampah sejak dari rumah, bukan mencampur seluruh jenis sampah dalam satu wadah.

Selain memisahkan berdasarkan jenisnya, warga juga diimbau membersihkan dan mengeringkan sampah sebelum disetorkan. Langkah sederhana ini penting untuk menjaga kualitas material agar lebih mudah diproses dan memiliki nilai jual.

“Jangan menganggap semua sampah itu tidak berguna. Banyak jenis sampah yang masih memiliki nilai jual dan bisa menjadi tambahan pendapatan masyarakat,” tutur Helmy.

Ia menambahkan, semakin bersih sampah yang disetorkan, semakin mudah material tersebut diproses dan semakin besar peluang memperoleh nilai ekonomi yang optimal.

Pemilahan Sampah Jadi Kunci Kurangi Beban TPA

Optimisme peningkatan pendapatan bank sampah juga didukung kebijakan pemilahan sampah dari sumber yang mulai diterapkan pada 1 Agustus 2026.

Kebijakan ini diharapkan meningkatkan volume sampah anorganik yang dapat dimanfaatkan kembali sekaligus menekan jumlah sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa.

Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya berorientasi pada pengangkutan dan pembuangan, tetapi juga mendorong pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai guna.

Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri, sebelumnya menegaskan bahwa penguatan bank sampah merupakan bagian penting dari sistem pengurangan sampah dan pengembangan ekonomi sirkular.

“Ini bukan sekadar membangun fasilitas, tetapi membangun sebuah sistem. Bank sampah sektoral akan menjadi penghubung yang memperkuat bank sampah unit sehingga roda ekonomi sirkular dapat berjalan lebih cepat di tengah masyarakat,” kata Melinda, Senin (3/8/2026).

Melinda juga mendorong aparatur sipil negara (ASN), camat, lurah, serta pengurus RT dan RW untuk menjadi teladan dalam memilah sampah dari rumah.

Menurutnya, perubahan kebiasaan masyarakat membutuhkan edukasi berkelanjutan dan dukungan fasilitas yang memadai. Upaya tersebut berjalan seiring dengan pembenahan sistem pengelolaan sampah di TPA Tamangapa dan penghentian praktik open dumping.

Jika gerakan pemilahan sampah dilakukan secara konsisten, manfaatnya dapat dirasakan dari dua sisi sekaligus: lingkungan menjadi lebih terjaga dan masyarakat memperoleh peluang tambahan penghasilan.

Kini, tantangannya bukan hanya mengejar target pendapatan Rp2,5 miliar, tetapi juga membangun kebiasaan baru agar sampah bernilai ekonomi tidak lagi berakhir sia-sia di tempat pembuangan. (ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *