1,5 Ton Sampah Terkumpul! Makassar Gaspol Menuju Bebas Sampah 2029

Gerakan mengurangi sampah di Kota Makassar terus diperluas. Melalui program Jelajah Sampah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar berhasil mengumpulkan 1.516,24 kilogram sampah dari 14 kecamatan sejak Juni 2026.
banner 325x300

MAKASSAR, NALARMEDIA.ID – Gerakan mengurangi sampah di Kota Makassar terus diperluas. Melalui program Jelajah Sampah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar berhasil mengumpulkan 1.516,24 kilogram sampah dari 14 kecamatan sejak Juni 2026.

Program ini bukan sekadar aksi bersih-bersih, melainkan upaya membangun kebiasaan masyarakat memilah sampah sejak dari rumah. Langkah tersebut menjadi bagian dari gerakan menuju Makassar Bebas Sampah 2029.

Terbaru, Jelajah Sampah menyasar Kecamatan Tamalanrea, Ahad (16 Agustus 2026), dengan pusat kegiatan di Jalan Bumi Tamalanrea Permai. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, hadir bersama Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa.

Munafri menegaskan, persoalan sampah tidak mungkin diselesaikan hanya dengan mengandalkan pemerintah. Perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci untuk menekan timbulan sampah yang terus membutuhkan penanganan.

“Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah, dibutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat, mulai dari rumah tangga, komunitas hingga berbagai unsur lainnya,” kata Munafri.

Menurutnya, Jelajah Sampah menjadi sarana edukasi bagi warga untuk mengenali jenis sampah, memahami cara pengolahannya, serta menerapkan kebiasaan memilah sampah dalam kehidupan sehari-hari.

Ia berharap, kesadaran yang tumbuh melalui kegiatan tersebut tidak berhenti ketika aksi lapangan selesai, tetapi berlanjut menjadi budaya di lingkungan rumah tangga dan permukiman.

Sampah Organik, Anorganik, dan Residu Dipisahkan

Kepala DLH Makassar, Helmy Budiman, menjelaskan bahwa Jelajah Sampah melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemerintah kecamatan dan kelurahan, pengurus RT/RW, kader Posyandu, kader keluarga berencana (KB), komunitas hingga warga setempat.

Edukasi yang diberikan juga mencakup beragam metode pengelolaan sampah. Warga diperkenalkan dengan pemanfaatan biopori dan komposter, pengolahan sampah organik menggunakan maggot, hingga pembuatan eco-enzyme.

Kegiatan turut diisi diskusi, pameran produk daur ulang, plogging atau aktivitas memungut sampah sambil berjalan kaki maupun berolahraga, serta penimbangan sampah yang berhasil dikumpulkan.

Dari total 1.516,24 kilogram sampah yang terkumpul di 14 kecamatan, komposisinya terdiri atas:

* 567,50 kilogram sampah residu
* 508,16 kilogram sampah anorganik
* 427,10 kilogram sampah organik

Data tersebut menunjukkan bahwa sampah yang terkumpul memiliki karakteristik berbeda sehingga membutuhkan penanganan sesuai jenisnya.

Sampah organik diarahkan untuk diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik disalurkan melalui bank sampah agar material yang masih bernilai dapat dimanfaatkan kembali. Adapun sampah residu ditangani oleh DLH.

“Jelajah Sampah Kota Makassar merupakan sebuah kegiatan yang sifatnya edukasi dan kolaboratif,” ujar Helmy.

Mamajang Tertinggi, Tamalanrea Kumpulkan 13,6 Kilogram

Berdasarkan data DLH Makassar, Kecamatan Mamajang mencatat jumlah sampah terkumpul terbanyak dalam rangkaian program tersebut, yakni 394,06 kilogram.

Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Tamalate dengan 220,48 kilogram, disusul Kecamatan Ujung Tanah sebanyak 196 kilogram.

Sementara itu, aksi Jelajah Sampah di Kecamatan Tamalanrea menghasilkan 13,6 kilogram sampah.

Perbedaan jumlah sampah yang terkumpul di setiap kecamatan menjadi bagian dari catatan pelaksanaan program. Namun, DLH menekankan bahwa keberhasilan Jelajah Sampah tidak semata-mata ditentukan oleh berat sampah yang dikumpulkan, melainkan juga oleh meningkatnya pemahaman dan keterlibatan masyarakat.

Melalui pendekatan edukasi dan kolaborasi, warga diharapkan semakin terbiasa memisahkan sampah yang masih bisa dimanfaatkan dari sampah yang benar-benar harus dibuang.

Menuju Makassar Bebas Sampah 2029

Program Jelajah Sampah menjadi salah satu langkah Pemkot Makassar dalam memperkuat partisipasi masyarakat untuk mengurangi timbulan sampah dari sumbernya.

Keterlibatan rumah tangga, komunitas, pemerintah wilayah, dan berbagai kelompok masyarakat diharapkan menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif.

Tantangan berikutnya adalah memastikan pemilahan dan pengolahan sampah dilakukan secara konsisten, bukan hanya saat kegiatan berlangsung.

Dengan kebiasaan memilah sampah sejak rumah, memperluas pemanfaatan kompos, serta menyalurkan material daur ulang ke bank sampah, beban pengelolaan sampah dapat ditekan secara bertahap.

Pemkot Makassar berharap gerakan kolaboratif ini terus berkembang dan menjadi fondasi untuk mewujudkan target Makassar Bebas Sampah 2029. (ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *