MAKASSAR, NALARMEDIA.ID – Pemerintah Kota Makassar mulai memperkuat perang melawan sampah dari hulu hingga hilir. Bukan hanya mengandalkan pengangkutan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), Pemkot kini memperbanyak fasilitas pemilahan, pengolahan, dan daur ulang sampah di tingkat rumah tangga hingga kecamatan.
Langkah ini menjadi bagian dari roadmap Pengelolaan Sampah Kota Makassar 2025–2029 untuk mengejar target Makassar Bebas Sampah 2029.
Sejumlah fasilitas disiapkan, mulai dari pembangunan 3.000 unit biopori, 100 unit Tempat Edukasi dan Budidaya Sampah (TEBA), hingga 100 unit tower maggot. Pemkot juga memperkuat armada pengangkutan serta memperluas jaringan bank sampah agar semakin banyak sampah yang dapat diolah sebelum berakhir di TPA Tamangapa.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Helmy Budiman, mengatakan paradigma pengelolaan sampah kini diarahkan pada pengurangan volume sampah sejak dari sumbernya, terutama rumah tangga.
“Pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya. Karena itu kami memperkuat sarana sekaligus membangun kesadaran masyarakat agar sampah yang masuk ke TPA semakin berkurang,” ujar Helmy, Jumat (7/8/2026).
Ribuan Fasilitas dan Armada Disiapkan
Pada periode 2025–2026, Pemkot Makassar menargetkan pembangunan berbagai sarana pengurangan dan penanganan sampah yang tersebar di sejumlah wilayah.
Fasilitas yang disiapkan meliputi:
- 3.000 unit biopori.
- 100 unit TEBA.
- 100 unit tower maggot.
- 95 kendaraan roda tiga.
- 20 truk sampah.
- 20 kontainer berkapasitas 6–10 meter kubik.
- 350 tempat sampah pilah.
- 31 timbangan sampah.
- Satu kapal pengangkut sampah untuk mendukung pelayanan di wilayah pesisir dan kepulauan.
Berbagai sarana tersebut diarahkan untuk memperkuat pelayanan persampahan sekaligus mendorong pengolahan sampah lebih dekat dengan lokasi timbulannya.
Biopori dan komposter dapat dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik, sedangkan budidaya maggot menjadi alternatif penguraian sampah organik tertentu. Sementara itu, tempat sampah pilah dan timbangan membantu mendukung pemisahan serta pengelolaan material yang masih memiliki nilai ekonomi.
12 TPS3R Jadi Benteng Sebelum Sampah Masuk TPA
Makassar juga telah memiliki 12 Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Fasilitas tersebut berada di Mariso, Pai, Bulurokeng, Untia, Daya, Buntusu, Sambung Jawa, Baru, Tamalabba, Kodingareng, Barrang Lompo, dan Antang.
TPS3R berperan sebagai tempat pemilahan dan pengolahan sampah sebelum residunya dibawa ke TPA Tamangapa. Melalui sistem ini, material yang masih dapat dimanfaatkan diharapkan tidak langsung bercampur dengan sampah yang harus dibuang.
Helmy mengatakan, semakin banyak sampah yang dapat diselesaikan di tingkat kawasan, semakin kecil pula volume residu yang perlu ditangani di TPA.
“Semakin banyak sampah yang selesai di TPS3R, maka semakin kecil residu yang masuk ke TPA. Itu yang terus kami dorong,” katanya.
Penguatan TPS3R menjadi penting karena persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan menambah armada pengangkutan. Pengurangan dan pengolahan dari sumbernya juga diperlukan agar beban TPA dapat ditekan secara berkelanjutan.
670 Bank Sampah Diperkuat, Ekonomi Sirkular Didorong
Di tingkat masyarakat, DLH Makassar terus memperluas peran bank sampah. Saat ini, terdapat 670 Bank Sampah Unit yang tersebar di berbagai wilayah kota.
Jaringan tersebut diperkuat dengan Bank Sampah Pusat, Bank Sampah Sektoral, Sentra Tukar Sampah, dan Makassar Eco Circular Hub.
Pemkot juga menjalankan program Jelajah Sampah dan Festival Daur Bumi untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pemilahan dan pemanfaatan kembali sampah.
Selain itu, berbagai kegiatan dikembangkan, antara lain budidaya maggot, pengomposan, pembuatan eco-enzyme, pertanian perkotaan atau urban farming, serta kampanye pemilahan sampah.
Melalui program tersebut, sampah diharapkan tidak lagi dipandang semata-mata sebagai limbah, tetapi juga sebagai material yang dapat diolah dan memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi.
Meski demikian, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada jumlah fasilitas yang tersedia. Pemilahan sampah dari rumah, konsistensi pengumpulan, serta keberlanjutan pengolahan menjadi faktor penting agar sarana yang dibangun benar-benar berfungsi optimal.
TPA Tamangapa Tetap Jadi Perhatian
Di sisi hilir, pembenahan TPA Tamangapa masih menjadi bagian penting dari agenda pengelolaan sampah Kota Makassar.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyatakan pembenahan TPA tersebut akan terus dilanjutkan dengan pendampingan Kementerian Lingkungan Hidup agar pengelolaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Upaya di hulu dan hilir ini saling berkaitan. Pengurangan sampah melalui biopori, TEBA, TPS3R, dan bank sampah perlu berjalan beriringan dengan perbaikan sistem pengelolaan residu di TPA.
Dengan memperkuat fasilitas sekaligus membangun kebiasaan memilah sampah, Pemkot Makassar berupaya mengurangi ketergantungan pada pembuangan akhir.
Target Makassar Bebas Sampah 2029 pun bukan sekadar soal menambah sarana, melainkan membangun sistem pengelolaan yang melibatkan pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam satu gerakan berkelanjutan.
(ADV)















