Honor Pekerja Seni Festival Gau Maraja Belum Kelar, Ini Penjelasan Event Organizer

Pekerja seni dalam Festival Gau Maraja di Kabupaten Bone 2026.
banner 325x300

BONE, NALARMEDIA.ID – Juang Manyala angkat bicara soal polemik keterlambatan pembayaran honorarium sejumlah pekerja seni dalam Festival Gau Maraja di Kabupaten Bone 2026.

Juang mengungkapkan detail pelaksanaan event, mitra yang terlibat dan pembayaran para pekerja seni dalam Festival Gau Maraja 2026.

“Yang pertama adalah saya sebagai kurator dan EO tidak mengenal dan tidak pernah berkomunikasi dengan seseorang berinisial SY. Tidak pernah dihubungi oleh yang bersangkutan. Kami memastikan tidak mengenal SY maupun sanggarnya,” beber Juang.

Lanjut kata Juang, ia dan OPD terkait tidak pernah saling lempar tanggung jawab soal pembayaran pekerja seni.

Ia menjelaskan, bahwa sistem yang dijalankan yakni dengan menggandeng sub EO jadi supporting partner.

Adapun pekerja seni atau sanggar yang terlibat direkrut langsung oleh sub EO.

“Kami EO men-sub satu pekerjaan khusus di Tanah Bangkalae dan dikerjakan oleh EO yang kami pilih yaitu Tawa Semesta. Si penampil tersebut direkrut atau diajak oleh sub EO kami, jadi tidak langsung dari Disbud dan kami. Makanya kami tidak pernah tahu berapa honor yang diminta (SY) dalam Festival Gau Maraja,” ungkapnya.

“Yang ketiga, talent tersebut karena komunikasinya hanya sampai kepada sub EO kami maka kami sebenarnya tidak tahu berapa nilai deal-nya dan seperti apa kesekapatan mereka. Kami hanya mempercayakan penuh pembiayaan, produksi, pemilihan talent kepada sub EO kami Tawa Semesta. Jadi kami tidak pernah berkomunikasi mulai dari awal sampai berakhirnya event dengan talent tersebut,” sambungnya.

Kemudian keempat kata Juang, bentuk kerja sama dengan sub EO yaitu, EO induk memberikan konsep yang akan diterapkan. Sub EO yang memilih produksi, vendor, talent, hingga rundown acara.

“Kami hanya memberikan konsep, mendanai, dan memberikan arahan sesuai koratorial Gau Maraja. Apa benefitnya, mereka mengajukan anggaran ke kami. Harusnya talent tersebut komunikasi dengan EO kami bukan malah mencemarkan nama baik Dinas Kebudayaan atau EO,” sesalnya.

“Kenapa kami melibatkan sub EO, ini adalah cara untuk bisa melibatkan komunitas, EO dan pelaku kreatif di Bone. Makanya kami melibatkan semua sub EO dalam rangkaian kegiatan,” terangnya.

Yang kelima, ia menegaskan bahwa pihaknya telah menyelesaikan semua kewajiban kepada sub EO yang menjadi mitra dalam event ini.

“Apakah kami tidak menunaikan kewajiban kepada sub EO kami, kami tunaikan. Tapi spesifik dengan Tawa Semesta kita punya deal-deal, bahwa semua yang perform dan vendor diperkerjaan dia, di-handle dulu sama sub EO. Nanti setelah pencairan baru kita bayar sesuai yang dia minta.”

“Yang keenam, kenapa kami belum melakukan pelunasan kepada sub EO kami, karena proses administrasi di pemerintahan yang sedang mengalami kendala. Kita tahu Perubahan (APBD 2026) disahkan pada malam terakhir Gau Maraja. Ini adalah proses di pemerintahan yang perlu kita pahami. Kemudian, Dinas Kebudayaan juga mengalami penggabungan dengan Pariwisata dan Kreatif. Prosesnya (pencairan anggaran) sedang bergulir, kami berkomunikasi dengan keuangan, staf ahli dan DPRD untuk mempercat supaya pembayaran cepat dilakukan,” ujarnya.

Juang menegaskan, Festival Gau Maraja bukan proyek pemerintah yang ditender dan dimenangkan oleh EO. Pihanya hanya merupakan relawan yang membantu Dinas Kebudayaan untuk mengorganisir acara.

“Bukan Gau Maraja ini ditender lalu kami pemenangnya. Kami relawan membantu Disbud mengorganisir acara Gau Maraja,” imbuhnya.

Dengan berembusnya isu-isu ini, Juang khawatir akan menurunkan kepercayaan publik terhadap hubungan baik antara seniman dengan pelaku kreatif dan pemerintah daerah itu sendiri.

“Kalau memang Disbud dengan kami EO atau sebagai kurator tidak peduli kesenian Bone, silakan dinilai. Berapa banyak kami tampilkan kesenian-kesenian Bone, berapa banyak kami kasih kesempatan sanggar. Semua sanggar dari kampung-kampung, kecamatan sampai sanggar kampus kami libatkan,” bebernya.

Bahkan, pihaknya punya program open submission, terbuka untuk siapapun yang tidak ada dalam radar EO. Jika memang EO tidak mengapresiasi talenta lokal, untuk apa pihaknya mengajak Praditya Indonesian Idol untuk tampil. Itu karena apresiasi talenta unggul dari Bone yang berkarir di luar kota.

“Kenapa kami mengajak seniman-seniman Bone yang berkarir di luar seperti Ardy Siji, Arman Dewarti, Andi Burhamzah, itu karena kami menghargai seniman-seniman yang lahir dari kebudayaan Bone,” pungkasnya.

“Terakhir, yang paling miris dari masalah ini, adalah dengan adanya adu domba, memanas-manasi,” pungkasnya.

Sebelumnya, pekerja seni berinsial SY menyatakan bahwa honor dari penampilannya belum terbayar sampai sekarang.

SY menyebutkan bahwa telah mempertanyakan masalah ini kepada OPD terkait dan EO. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *