BONE, NALARMEDIA — Pagi yang tenang di Batalyon Armed 21/Kawali, Jumat (24 April 2026), berubah menjadi ruang perenungan sekaligus penempaan.
Sebanyak 74 pimpinan perangkat daerah, camat, dan kepala bagian lingkup Pemerintah Kabupaten Bone hadir dengan balutan baju loreng sage—warna yang tak sekadar seragam, tetapi simbol kesiapan, keteguhan, dan kebersamaan.
Di antara mereka, 18 perempuan berdiri tegak, membawa semangat yang sama: mengabdi lebih baik untuk Bone.
Retret ini dibuka langsung oleh Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman yang akrab disapa BupAAS, didampingi Wakil Bupati, Andi Akmal Pasluddin.
Dalam suasana yang sarat makna, suara BupAAS mengalun tegas namun hangat, menembus kesadaran para peserta akan beratnya amanah yang mereka pikul.
“Kegiatan ini merupakan momentum yang sangat penting bagi kita semua, untuk memperkuat sinergi, meningkatkan kapasitas kepemimpinan, serta membangun kembali semangat kebersamaan dalam menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat,” sebutnya.
Di tengah hamparan nilai-nilai kedisiplinan khas militer, retret ini bukan sekadar agenda formal.
Ia menjelma menjadi ruang sunyi untuk bercermin—tempat setiap pemimpin menata ulang niat, menguatkan komitmen, dan menyalakan kembali api pengabdian yang mungkin sempat redup oleh rutinitas.
BupAAS menegaskan, menjadi aparatur pemerintah bukan hanya menjalankan fungsi administratif.
Lebih dari itu, mereka adalah motor penggerak pembangunan dan wajah pelayanan bagi masyarakat.
Amanah itu, katanya, bukan sekadar jabatan, melainkan tanggung jawab moral yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Dalam refleksinya, ia menekankan tiga pilar utama: semangat, disiplin, dan tanggung jawab.
Semangat, menurutnya, adalah energi yang menggerakkan organisasi. Tanpa semangat, program hanya akan menjadi rencana di atas kertas. Namun dengan semangat, keterbatasan dapat dilampaui.
Disiplin menjadi fondasi—bukan hanya soal kehadiran, tetapi juga cara berpikir, bekerja, hingga mengambil keputusan.
Sementara tanggung jawab adalah jiwa dari setiap kebijakan, memastikan setiap langkah berpihak pada kepentingan masyarakat.
Di lingkungan militer seperti Batalyon Armed 21/Kawali, nilai-nilai itu terasa lebih hidup. Ketangguhan, kebersamaan, dan kepemimpinan yang kuat seolah menyatu dalam setiap langkah peserta.
Tidak ada sekat jabatan, tidak ada batas sektoral—yang ada hanyalah tujuan bersama: kemajuan Kabupaten Bone.
“Melalui kegiatan ini, saya berharap akan terbangun solidaritas yang lebih kuat. Tidak ada lagi sekat-sekat sektoral. Yang ada adalah kerja sama, koordinasi, dan sinergi,” tegasnya.
Retret ini pun menjadi pengingat bahwa tantangan pembangunan ke depan tidaklah ringan. Dibutuhkan aparatur yang tidak hanya cakap, tetapi juga berkarakter—pemimpin yang mampu mengambil keputusan dengan bijak, bekerja dengan integritas, dan menempatkan kepentingan masyarakat di atas segalanya.
Di balik loreng sage yang dikenakan hari itu, tersimpan harapan besar. Harapan akan lahirnya pemimpin-pemimpin yang tidak hanya kuat secara kapasitas, tetapi juga jernih dalam nurani.
Harapan akan pemerintahan yang lebih solid, lebih disiplin, dan lebih tulus dalam melayani.
Ketika matahari perlahan meninggi di langit Bone, retret ini bukan sekadar dimulai—ia sedang menulis babak baru.
Babak tentang kebersamaan yang diperkuat, komitmen yang diteguhkan, dan pengabdian yang diperbarui.
Sebab pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang siapa yang berdiri di depan, tetapi tentang siapa yang tetap setia berjalan bersama rakyatnya. (red)















