MAKASSAR, NALARMEDIA — Di tengah arus perubahan dunia kerja yang kian dinamis, Politeknik Bosowa menunjukkan langkah mantap dalam meneguhkan perannya sebagai kawah candradimuka bagi generasi vokasi yang siap pakai.
Komitmen itu kembali ditegaskan melalui partisipasi aktif dalam program nasional SNI Goes To Campus 2026 yang digelar serentak di 34 perguruan tinggi di Indonesia, Selasa (5 Mei 2026).
Mengusung tema “Kampus Berdampak: Lulusan Siap Bersaing di Dunia Kerja”, kegiatan ini bukan sekadar forum akademik biasa, melainkan ruang dialektika yang mempertemukan dunia pendidikan dengan denyut kebutuhan industri.
Di sinilah standar tidak lagi dipandang sebagai aturan kaku, melainkan sebagai bahasa universal yang menjembatani kompetensi lulusan dengan ekspektasi pasar kerja.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Wakil Direktur III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Kerjasama dan Pengembangan Usaha, Alang Sunding, S.ST., M.T bersama jajaran sivitas akademika lainnya seperti Kepala Pusat Produksi dan Jasa, Muh. Fachrul, S.ST., M. T, perwakilan program studi Sulistianingsih Nur Fitri, serta mahasiswa Teknik Listrik Ismunandar.
Kehadiran mereka menjadi simbol keseriusan kampus dalam merespons tuntutan zaman.
Digelar secara hybrid, kegiatan ini menghadirkan pemaparan komprehensif dari Badan Standardisasi Nasional bersama akademisi dan praktisi industri.
Diskusi mengerucut pada satu benang merah: pentingnya penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) dalam setiap lini pendidikan vokasi—mulai dari proses pembelajaran, riset terapan, hingga kesiapan lulusan memasuki dunia profesional.
Bagi Alang Sunding, partisipasi ini bukan sekadar kehadiran seremonial, melainkan langkah strategis untuk menyerap wawasan yang aplikatif.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa masa kini tidak cukup hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga harus memahami standar sebagai fondasi profesionalisme.
“Ini bukan hanya soal kompetensi, tetapi soal kesiapan menghadapi realitas dunia kerja. Standar menjadi kunci agar lulusan kita tidak gagap ketika masuk industri,” ujarnya.
Lebih jauh, ia melihat penerapan SNI sebagai jembatan kokoh dalam memperkuat link and match antara kampus dan industri. Dengan standar yang terintegrasi dalam kurikulum, riset terapan yang dihasilkan pun akan lebih relevan, kontekstual, dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Program SNI Goes To Campus sendiri merupakan inisiatif nasional yang dirancang untuk menanamkan budaya standar sejak dini di lingkungan perguruan tinggi. Sebuah gerakan yang tidak hanya mencetak lulusan berdaya saing tinggi, tetapi juga membangun ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap perubahan global.
Langkah yang diambil Politeknik Bosowa ini menjadi cerminan arah baru pendidikan vokasi: tidak lagi berjalan sendiri, melainkan beriringan dengan kebutuhan industri. Dengan semangat inovasi dan keberpihakan pada standar nasional, kampus ini tengah menyiapkan generasi yang bukan hanya siap kerja, tetapi juga siap unggul.
Di titik inilah, masa depan vokasi mulai ditenun—rapi, terukur, dan penuh harapan. (ADV)















