BONE, NALARMEDIA — Pemandangan berbeda terlihat di sejumlah lorong kecil kawasan pemukiman padat di Kabupaten Bone. Di tengah jalan setapak yang becek dan genangan lumpur usai diguyur hujan, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bone, Hj. Maryam Andi Asman, tampak berjalan kaki bersama jajaran pengurus TP PKK Bone menyusuri rumah-rumah warga miskin ekstrem.
Tak ada jarak yang dibangun. Dengan langkah perlahan, Hj. Maryam mendatangi satu per satu rumah warga yang selama ini hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Gang sempit, jalan berlumpur, hingga akses yang sulit dijangkau kendaraan dilalui demi memastikan bantuan benar-benar tiba di tangan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius.
Blusukan sosial itu pun berubah menjadi momen penuh haru. Sejumlah warga tak mampu menyembunyikan air mata saat menerima bantuan dan perhatian langsung dari Ketua TP PKK Bone tersebut.
Ada yang terdiam sambil menggenggam erat bantuan yang diterima, ada pula ibu rumah tangga yang mata berkaca-kaca karena merasa diperhatikan di tengah himpitan ekonomi yang selama ini mereka rasakan.
Suasana emosional terasa ketika Hj. Maryam memasuki rumah-rumah sederhana warga. Sebagian rumah yang dikunjungi berdinding papan tua, beratap yang mulai rusak, serta memiliki lantai seadanya.
Di beberapa sudut rumah, tampak perabot rumah tangga yang sangat terbatas. Kondisi itu membuat Hj. Maryam mengaku sangat prihatin.
Dengan nada lirih, ia mengungkapkan bahwa masih banyak masyarakat yang membutuhkan uluran tangan bersama dan perhatian yang berkelanjutan.
“Kami ingin melihat langsung kondisi masyarakat. Banyak keluarga yang memang membutuhkan perhatian lebih. Kehadiran kami di sini bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga ingin memastikan mereka merasa tidak sendiri,” ujar Hj. Maryam di sela kegiatan blusukan, Jumat (15 Mei 2026).
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen TP PKK Kabupaten Bone untuk lebih dekat dengan masyarakat, khususnya keluarga rumah tangga miskin ekstrem yang selama ini hidup dalam keterbatasan.
Bagi Hj. Maryam, mendatangi langsung rumah warga menjadi cara paling nyata untuk memahami kondisi masyarakat.
Dari kunjungan itu, ia bisa mendengar langsung cerita para ibu tentang perjuangan memenuhi kebutuhan keluarga, sulitnya memenuhi kebutuhan sehari-hari, hingga keterbatasan akses kesehatan dan pendidikan.
Di salah satu rumah yang dikunjungi, seorang ibu penerima bantuan tampak tak kuasa menahan haru saat berbincang dengan Hj. Maryam. Dengan suara terbata-bata, ia menyampaikan terima kasih karena didatangi langsung oleh jajaran TP PKK Kabupaten Bone.
“Terima kasih sudah datang melihat kami. Kami sangat bersyukur masih ada yang peduli,” ucapnya dengan suara haru.
Momen itu membuat suasana seketika hening. Sejumlah pengurus TP PKK Bone yang mendampingi juga tampak tersentuh melihat kondisi warga yang dikunjungi.
Meski harus melewati jalanan berlumpur dan lorong yang sempit, Hj. Maryam tetap melanjutkan kunjungan dari rumah ke rumah. Sesekali ia berhenti menyapa anak-anak warga dan berbincang dengan para lansia yang berada di sekitar lokasi.
Ia mengatakan, aksi blusukan tersebut akan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Tahap awal difokuskan di tiga kecamatan wilayah kota sebelum nantinya menyasar kecamatan lainnya di Kabupaten Bone.
“Ini baru awal. Kami mulai dari tiga kecamatan kota dan insyaallah akan terus berlanjut ke kecamatan lain. Kami ingin lebih banyak masyarakat yang bisa kami jangkau,” katanya.
Ia berharap, kegiatan sosial tersebut dapat menjadi penggerak kepedulian bersama agar semakin banyak pihak yang ikut membantu masyarakat kurang mampu.
Menurutnya, persoalan kemiskinan ekstrem tidak bisa ditangani sendiri, tetapi membutuhkan kolaborasi semua pihak, mulai dari pemerintah, organisasi sosial, hingga masyarakat yang memiliki kemampuan membantu sesama.
Blusukan yang dilakukan Hj. Maryam Andi Asman bersama TP PKK Bone itu bukan sekadar agenda seremonial. Di balik langkah kaki yang menyusuri lorong becek, tersimpan pesan kemanusiaan tentang pentingnya hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan.
Di rumah-rumah sederhana itu, bantuan mungkin hanya berupa kebutuhan pokok dan perhatian singkat. Namun bagi warga yang hidup dalam keterbatasan, kedatangan seseorang yang rela berjalan menembus lumpur demi menyapa mereka menjadi bentuk kepedulian yang begitu berarti.
Di tengah kerasnya kehidupan yang mereka jalani setiap hari, perhatian kecil itu menjelma menjadi harapan baru bahwa masih ada tangan yang peduli dan hati yang mau mendengar perjuangan mereka. (red)















