BONE, NALARMEDIA — Komitmen menjaga dan melestarikan warisan sejarah serta budaya daerah kembali ditunjukkan Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman.
Orang nomor satu di Kabupaten Bone yang akrab disapa BupAAS itu menghadiri kegiatan Tudang Sipulung Wija Datu Bengo yang dirangkaikan dengan peletakan batu pertama pembangunan pagar keliling Makam Datu Bengo di Desa Bulu Allaporeng, Kecamatan Bengo, Sabtu (6 Juni 2026).
Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut menjadi momentum penting dalam mempererat silaturahmi keluarga besar keturunan Datu Bengo sekaligus memperkuat upaya pelestarian situs bersejarah yang memiliki nilai budaya dan historis bagi masyarakat Bone.
Ratusan peserta yang terdiri dari keluarga besar Wija Datu Bengo, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, hingga unsur Forkopimcam Kecamatan Bengo tampak hadir mengikuti rangkaian acara.
Suasana penuh kekeluargaan mewarnai pelaksanaan tudang sipulung yang menjadi tradisi masyarakat Bugis dalam membangun kebersamaan dan musyawarah.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Pembina Yayasan La Pababbari Metemmu Page Datu Macoae Ri Bengo, Andi Muliyono, sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD), tenaga ahli kebudayaan dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone, para kepala desa se-Kecamatan Bengo, serta keluarga besar keturunan Datu Bengo.
Peletakan batu pertama pembangunan pagar keliling makam menjadi simbol dimulainya upaya penataan dan perlindungan kawasan makam yang selama ini menjadi salah satu situs bersejarah dan tempat ziarah masyarakat.
Kehadiran pagar diharapkan dapat menjaga kelestarian kawasan makam sekaligus meningkatkan kenyamanan bagi para peziarah yang datang dari berbagai daerah.
Momentum ini juga menjadi wujud sinergi antara pemerintah daerah, yayasan, tokoh masyarakat, dan keluarga besar Wija Datu Bengo dalam merawat nilai-nilai sejarah yang diwariskan para leluhur.
Bagi masyarakat Bone, sosok Datu Bengo memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan sejarah dan budaya daerah.
Karena itu, upaya pelestarian situs makamnya dipandang sebagai bagian penting dari menjaga identitas dan kearifan lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Melalui kegiatan Tudang Sipulung ini, semangat persatuan, kekeluargaan, serta kecintaan terhadap sejarah dan budaya Bone kembali diteguhkan, sekaligus menjadi pengingat bahwa warisan leluhur merupakan aset berharga yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. (red)















