MAKASSAR, NALARMEDIA— Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Ilmu, dan Kebudayaan (FSIKP) Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar kuliah tamu internasional bertajuk “How Can AI Transform the Way We Learn and Write: An International Guest Lecture on AI in Education and Academic Writing”.
Kegiatan yang berlangsung di kampus UMI ini menghadirkan sejumlah pembicara, di antaranya Wasir Ali, MA, dari Pakistan dan Samsul Chabib, M.Pd.
Para narasumber memaparkan secara mendalam tentang perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang kini menjadi fenomena global, terutama dalam ranah pendidikan dan penulisan akademik. Diskusi yang berlangsung hangat tersebut menyoroti satu pertanyaan besar: apakah AI merupakan ancaman atau peluang bagi dunia pendidikan?
Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UMI, Riska Riani Sulaeman, menegaskan bahwa masa depan tidaklah dimiliki oleh mereka yang hanya menggantungkan hidup pada teknologi, maupun oleh mereka yang menolak teknologi secara membabi buta.
“Masa depan adalah milik mereka yang mampu menjadikan teknologi sebagai mitra bijak dalam kehidupan,” ujar Riska dalam sambutannya, Jumat (12/6/2026).
Ia menambahkan, pendidikan bukan sekadar aktivitas menemukan jawaban atas soal-soal akademik, melainkan harus menjelma menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, pemanfaatan AI harus ditempatkan secara proporsional, tidak berlebihan dan tidak pula dihindari.
Sementara itu, Dekan FSIKP UMI, Dr. Nurjannah Abna, M.Pd, menekankan bahwa AI saat ini telah mengubah cara hidup dan cara belajar manusia secara fundamental. Ia mengingatkan para mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi penonton di era disruptif ini.
“Mahasiswa jangan cuma jadi penonton, tetapi harus menjadi pelaku, khususnya dalam hal penulisan dan pendidikan. Jadilah generasi yang adaptif terhadap teknologi,” tegas Nurjannah.
Kegiatan yang berlangsung interaktif ini diikuti puluhan mahasiswa yang antusias mempertanyakan sisi etis dan teknis penggunaan AI dalam tugas-tugas akademik. Harapannya, mahasiswa mampu mengoptimalkan AI sebagai alat bantu tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis dan menulis mandiri. (rls/red).















