Mentan Andi Amran: Koperasi Desa Merah Putih Pangkas Rantai Pasok, Rp263 Triliun Keuntungan Bisa Kembali ke Petani

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman (kanan) menegaskan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) akan menjadi motor penggerak ekonomi desa sekaligus instrumen strategis untuk memangkas rantai pasok hasil pertanian. (ist)
banner 325x300

JAKARTA, NALARMEDIA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) akan menjadi motor penggerak ekonomi desa sekaligus instrumen strategis untuk memangkas rantai pasok hasil pertanian.

Melalui sistem distribusi yang lebih sederhana, petani diyakini akan memperoleh keuntungan yang lebih besar, sementara ekonomi desa akan semakin bergairah.

Pernyataan tersebut disampaikan Mentan Andi Amran saat menghadiri Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Koperasi Desa Merah Putih yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, di Jakarta, Selasa (28 Juli 2026).

Menurut Andi Amran, selama ini distribusi hasil pertanian masih melewati rantai yang terlalu panjang sehingga mengurangi pendapatan yang diterima petani.

Kehadiran KDMP diharapkan mampu memangkas jalur distribusi dari delapan mata rantai menjadi hanya tiga, yakni petani, koperasi, dan masyarakat.

“Di sektor pertanian fungsi utama koperasi adalah memotong supply chain atau rantai pasok dari delapan mata rantai menjadi tiga, yakni petani, koperasi, lalu masyarakat,” ucap Mentan Andi Amran.

Ia mengungkapkan, berdasarkan perhitungan Kementerian Pertanian, keuntungan yang selama ini dinikmati para perantara atau middleman dari sembilan komoditas pertanian utama mencapai sekitar Rp313 triliun.

Menurutnya, apabila koperasi mengambil sebagian kecil peran tersebut, manfaat ekonomi yang jauh lebih besar dapat kembali dinikmati oleh para petani.

“Kami pernah menghitung, dari sembilan komoditas itu keuntungan middleman mencapai Rp313 triliun. Kalau koperasi memperoleh Rp50 triliun saja, berarti masih ada sekitar Rp263 triliun yang bisa dinikmati petani. Dampaknya harga di tingkat petani meningkat, daya beli masyarakat ikut naik, uang berputar di desa, dan ekonomi kerakyatan tumbuh. Itu yang diinginkan Bapak Presiden Prabowo,” jelasnya.

Selain memperpendek rantai distribusi, KDMP juga akan mendekatkan berbagai layanan pertanian kepada masyarakat desa. Petani nantinya tidak perlu lagi menempuh jarak jauh untuk memperoleh pupuk bersubsidi maupun menjual hasil panennya.

“Kalau setiap desa memiliki koperasi, petani tidak perlu lagi menempuh jarak yang jauh untuk mendapatkan pupuk atau menjual gabah. Perputaran uang terjadi di desa, rantai pasok menjadi lebih pendek, daya beli masyarakat meningkat, dan kesejahteraan petani ikut naik,” kata Andi Amran.

Lebih lanjut, Mentan Andi Amran menjelaskan bahwa koperasi akan berperan sebagai offtaker sekaligus distributor hasil pertanian. Sistem tersebut diyakini mampu mengatasi persoalan anjloknya harga saat panen raya di suatu daerah dengan mendistribusikan komoditas ke wilayah lain yang membutuhkan.

“Selama ini kita sering melihat tomat, cabai, atau sayuran dibuang karena harga jatuh di daerah tertentu, padahal di daerah lain harganya tinggi. Melalui Agrinas Pangan sebagai pelaksana, koperasi akan mengorganisasi distribusi dari Sabang sampai Merauke sehingga komoditas dapat terserap dan tersalurkan dengan lebih baik,” terangnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa Koperasi Desa Merah Putih bukan sekadar koperasi biasa ataupun toko ritel, melainkan infrastruktur pemerintah di tingkat desa yang akan memperkuat pelayanan publik sekaligus menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

Menurut Zulhas, terdapat dua fungsi utama KDMP, yakni sebagai pusat layanan berbagai program pemerintah dan sebagai offtaker hasil produksi masyarakat, khususnya komoditas pangan strategis seperti beras dan gabah.

“Yang paling mendasar, koperasi ini menjadi infrastruktur pemerintah dan menjadi offtaker produk-produk prioritas seperti beras dan gabah. Kalau harga gabah di lapangan dibeli tengkulak hanya Rp5.000 per kilogram, sementara pemerintah menetapkan Rp6.500, maka koperasi bersama Bulog bisa membeli sesuai harga yang ditetapkan pemerintah,” ujar Zulhas.

Ia menambahkan, setelah fungsi utama tersebut berjalan optimal, KDMP dapat terus dikembangkan sesuai potensi masing-masing desa, mulai dari pengembangan desa wisata hingga berbagai usaha produktif lainnya.

Zulhas optimistis program strategis Presiden Prabowo Subianto itu mulai memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pada Oktober 2026.

“Kita sedang membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di 83 ribu desa. Tantangannya memang besar, tetapi Insyaallah pada Oktober nanti Koperasi Desa Merah Putih sudah mulai terasa manfaatnya di tengah masyarakat,” pungkasnya. (rls/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *