MAKASSAR, NALARMEDIA— Internet dan Artificial Intelegence (AI) bukan sekadar perkembangan teknologi, melainkan kekuatan yang mengubah cara manusia berpikir, bekerja, berkolaborasi, hingga mengambil keputusan.
Organisasi yang mampu bertahan bukanlah yang paling besar atau paling lama berdiri, tetapi yang paling cepat belajar dan beradaptasi. Kemajuan AI juga harus dipandang sebagai mitra yang memperkuat kreativitas dan produktivitas manusia, bukan sebagai ancaman.
Karena itu, setiap institusi dituntut membangun budaya belajar yang berkelanjutan, memanfaatkan data sebagai dasar pengambilan keputusan, serta mendorong kolaborasi lintas disiplin untuk melahirkan inovasi.
Hal tersebut menjadi alasan Executive Strategic Summit (ESS) Universitas Muslim Indonesia (UMI) menghadirkan CEO Tribun Network, Dahlan Dahi, dengan materi bertajuk “Internet, AI, and Collective Imagination” di Auditorium Al Jibra UMI, Makassar. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari pada 1 – 2 Agustus 2026.
Rektor UMI Prof. Dr. H. Hambali Thalib, SH., MH., menyebut kehadiran Dahlan Dahi sebagai kesempatan istimewa bagi sivitas akademika untuk belajar langsung dari sosok yang tidak hanya menyaksikan perubahan industri media nasional, tetapi juga menjadi bagian dari pemimpin transformasi tersebut.
“Beliau hadir bukan sekadar sebagai seorang pimpinan media nasional. Beliau adalah salah satu tokoh yang ikut mengubah wajah industri media Indonesia ketika dunia sedang berubah sangat cepat. Saya menyebut kehadiran beliau hari ini sebagai kemewahan transformasi, karena tidak setiap hari kita memiliki kesempatan belajar langsung dari seseorang yang tidak hanya menyaksikan perubahan, tetapi ikut memimpin perubahan,” ujarnya.
Guru Besar Fakultas Hukum UMI itu, menilai pengalaman Dahlan Dahi memberikan pelajaran penting bahwa kegagalan sebuah organisasi sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya sumber daya, melainkan karena terlambat membaca perubahan.
“Kita melihat sendiri bagaimana media yang lambat beradaptasi akhirnya tertinggal. Bukan karena kekurangan orang pintar, bukan karena kekurangan modal, tetapi karena terlambat membaca arah zaman,” katanya.
Pesan tersebut, lanjut Rektor, menjadi refleksi penting bagi dunia pendidikan tinggi. Universitas harus mampu bergerak lebih cepat dalam merespons perubahan agar tetap relevan di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Pelajaran itulah yang ingin kita bawa ke Universitas Muslim Indonesia. Karena kampus pun demikian. Sebuah universitas tidak akan kehilangan masa depannya karena kekurangan gedung atau slogan. Universitas akan tertinggal ketika merasa cara lama masih cukup untuk menghadapi masa depan yang sudah berubah,” tegasnya.
Melalui UMI Executive Strategic Summit, UMI berkomitmen membangun ekosistem kepemimpinan yang adaptif, berbasis data, terbuka terhadap inovasi, serta mampu memanfaatkan internet dan AI untuk meningkatkan kualitas tata kelola, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Insya Allah, hari ini kami tidak hanya ingin mendengar materi, tetapi juga belajar bagaimana membaca perubahan, mengambil keputusan, dan memimpin transformasi,” tutup Rektor.(rls/red).















