BupAAS Bawa Misi Besar di Bali, Perkuat Jejaring dan Masa Depan Peternakan Bone

Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. (BupAAS) bersama Ketua Tim Penggerak PKK Bone Hj. Maryam Andi Asman, sejumlah kepala OPD, jajaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), PT Berdikari (Persero), serta media, BupAAS melakukan kunjungan kerja ke Bali.
banner 325x300

BALI, NALARMEDIA — Upaya memperkuat sektor peternakan Kabupaten Bone terus dilakukan Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. (BupAAS).

Bersama Ketua Tim Penggerak PKK Bone Hj. Maryam Andi Asman, sejumlah kepala OPD, jajaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), PT Berdikari (Persero), serta media, BupAAS melakukan kunjungan kerja ke Bali, 21–23 Agustus 2026.

Kunjungan selama tiga hari tersebut tidak sekadar menjadi agenda seremonial.

BupAAS bersama rombongan membawa misi untuk melihat langsung praktik peternakan di lapangan, bertukar pengetahuan, memperkuat konsolidasi program, sekaligus membuka jejaring kerja sama lintas lembaga untuk mendukung kemajuan peternakan di Bone.

Salah satu agenda utama dalam kunjungan tersebut adalah sosialisasi Hasil Anak Ternak (HAT) bersama PT Berdikari. Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat interkoneksi berbagai program peternakan sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, BUMN dan kelompok peternak.

Belajar dari Pengelolaan Peternakan di Bali
Rombongan tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Jumat pagi (21 Agustus 2026).

Setibanya di Bali, rombongan langsung menuju Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU HPT) Denpasar di Pulukan.

Di lokasi tersebut, rombongan melakukan peninjauan padang penggembalaan.

Kunjungan lapangan ini menjadi kesempatan bagi jajaran Pemkab Bone untuk melihat secara langsung pengelolaan sumber daya peternakan, termasuk berbagai aspek teknis yang dapat menjadi bahan pembelajaran untuk pengembangan sektor peternakan di Bone.

Peninjauan kemudian dilanjutkan dengan diskusi teknis bersama jajaran BPTU HPT. Pembahasan tidak hanya menyangkut kondisi peternakan saat ini, tetapi juga diarahkan pada bagaimana membangun sistem pengembangan peternakan yang berkelanjutan.

Rangkaian agenda hari pertama ditutup dengan sosialisasi HAT bersama PT Berdikari sebelum rombongan menuju Hotel Mercure Kuta.

Perkuat Kolaborasi Pemerintah, BUMN dan Peternak

Memasuki hari kedua, Sabtu (22 Agustus 2026), rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Bangli untuk mengunjungi Kelompok Ternak Koperasi Eka Shanti.

Kunjungan tersebut menjadi ruang untuk melihat aktivitas peternakan secara langsung sekaligus mendalami praktik pengelolaan kelompok ternak yang dapat menjadi referensi bagi pengembangan kelembagaan peternak di Bone.

Agenda semakin strategis dengan hadirnya Bupati Bone, Dirjen PKH, Direktur Hilirisasi PKH, serta Direktur Operasional 2 PT Berdikari (Persero) dalam forum diskusi.
Pertemuan tersebut membahas berbagai peluang pengembangan sektor peternakan, mulai dari penguatan kelembagaan, hilirisasi, hingga peluang kerja sama antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dunia usaha, dan kelompok peternak.

Konsolidasi kemudian dilanjutkan melalui sosialisasi kegiatan HAT secara menyeluruh.

Forum ini diharapkan mampu menyatukan pemahaman sekaligus memperkuat koordinasi seluruh pihak yang terlibat.

Dari Bali untuk Peternakan Bone

Hari terakhir, Ahad (23 Agustus 2026), dimanfaatkan untuk penyusunan laporan dan evaluasi hasil kunjungan. Seluruh masukan, pengalaman lapangan, serta hasil diskusi selama kunjungan dirangkum sebagai bahan tindak lanjut.

Rombongan dijadwalkan kembali ke Ujung Pandang menggunakan penerbangan Lion Air JT740 pada sore hari.
Bagi Kabupaten Bone, kunjungan kerja ke Bali ini menjadi bagian dari upaya membangun konektivitas yang lebih luas dalam pengembangan peternakan.

BupAAS tidak hanya membawa jajaran pemerintah daerah untuk melihat dan belajar, tetapi juga membuka ruang pertemuan dengan pemerintah pusat, BUMN, kelompok ternak, dan pemangku kepentingan lainnya.

Harapannya, berbagai diskusi dan pembelajaran tersebut tidak berhenti sebagai catatan perjalanan. Lebih jauh, hasil kunjungan dapat diterjemahkan menjadi program konkret dan kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi peternak Bone.

Dari Bali, rombongan membawa pulang lebih dari sekadar dokumentasi. Ada pengalaman lapangan, pengetahuan baru, gagasan, jejaring kerja sama, dan peluang pengembangan yang diharapkan menjadi modal penting untuk mendorong sektor peternakan Bone semakin maju, produktif, dan berdaya saing. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *