Makassar Tambah 40 Armada Sampah, Bank Sampah Raup Rp903 Juta!

Sebanyak 40 armada pengangkut sampah baru disiapkan pada 2026 untuk mengoptimalkan pelayanan di 14 kecamatan sekaligus menekan persoalan sampah yang kian menantang di perkotaan.
banner 325x300

MAKASSAR, NALARMEDIA.ID – Pemerintah Kota Makassar tancap gas memperkuat layanan kebersihan. Sebanyak 40 armada pengangkut sampah baru disiapkan pada 2026 untuk mengoptimalkan pelayanan di 14 kecamatan sekaligus menekan persoalan sampah yang kian menantang di perkotaan.

Penambahan armada tersebut terdiri atas 30 unit motor sampah dan 10 unit arm roll truck. Langkah ini diharapkan memperlancar pengangkutan sampah dari kawasan permukiman menuju tempat pemrosesan akhir (TPA).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Makassar, Helmy Budiman, mengatakan pengadaan kendaraan baru merupakan bagian dari upaya memperkuat sarana dan prasarana persampahan.

“Pengadaan armada baru sudah kami lakukan. Pada tahun ini, terdapat penambahan 30 unit motor sampah dan 10 unit arm roll,” kata Helmy, Selasa (25 Agustus 2026).

Menurutnya, kebutuhan armada terus meningkat seiring besarnya volume sampah dan luasnya cakupan pelayanan kebersihan di Kota Makassar.

Berdasarkan data DLH, Makassar saat ini memiliki 1.073 motor roda tiga, 221 armada Tangkasaki, 147 dump truck, serta 62 arm roll truck berkapasitas standar. Selain itu, tersedia 16 arm roll truck berkapasitas di atas 10 meter kubik dan tujuh mobil compactor.

Namun, tidak seluruh kendaraan berada dalam kondisi prima. Sejumlah armada mengalami kerusakan, mulai dari kategori ringan hingga berat. Karena itu, penambahan kendaraan baru harus berjalan beriringan dengan pemeliharaan dan peremajaan armada lama.

Sebelumnya, Pemkot Makassar juga telah merealisasikan bantuan 50 kendaraan persampahan pada 2025, termasuk sembilan dump truck dan 11 arm roll. DLH bahkan membuka peluang penambahan armada melalui anggaran perubahan, dengan tetap mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah.

Bukan Sekadar Tambah Truk

Helmy menegaskan, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan memperbanyak kendaraan pengangkut. Perubahan perilaku masyarakat, terutama dalam memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah, menjadi faktor penting untuk mengurangi beban pengangkutan serta mencegah penumpukan di TPA.

“Pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan penambahan maupun peremajaan armada. Kita juga mendorong perubahan pola pengelolaan sampah mulai dari tingkat rumah tangga dan lingkungan,” ujarnya.

Untuk mendukung pengolahan sampah di tingkat kecamatan, DLH Makassar menyiapkan 10 mesin pencacah anorganik, 10 mesin pengayak, dan 24 mesin pembubur.

Peralatan tersebut didistribusikan melalui fasilitas tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R). Dengan dukungan mesin pengolahan, sampah diharapkan dapat diproses lebih awal sebelum dibawa ke TPA, sehingga volume sampah yang harus diangkut bisa ditekan.

Strategi ini sekaligus memperkuat pengelolaan sampah berbasis lingkungan. Artinya, penanganan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif warga sejak dari sumbernya.

Bank Sampah Raup Ratusan Juta

Di sisi lain, Pemkot Makassar terus mendorong penguatan jaringan bank sampah sebagai bagian dari upaya mengubah sampah menjadi sumber nilai ekonomi.

Saat ini, Makassar memiliki 670 Bank Sampah Unit (BSU) yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menyetorkan berbagai jenis sampah anorganik, seperti botol plastik, kardus, kertas, logam, hingga botol kaca.

Sampah yang selama ini berpotensi mencemari lingkungan dapat memiliki nilai jual apabila dipilah dengan benar dan disalurkan melalui jaringan pengelolaan yang tepat.

Upaya tersebut mulai memperlihatkan hasil. Bank Sampah Pusat (BSP) Makassar mencatat pendapatan sebesar Rp367 juta sepanjang 2025. Sementara itu, hingga Juli 2026, pendapatannya telah mencapai sekitar Rp903,95 juta.

DLH Makassar menargetkan pendapatan bank sampah menembus Rp2,5 miliar hingga akhir 2026.

“Semua material tersebut memiliki pasar dan nilai ekonomi, asalkan dipilah dengan baik sejak dari rumah,” jelas Helmy.

Dengan tambahan 40 armada, dukungan mesin pengolahan, dan penguatan ratusan bank sampah, Pemkot Makassar berupaya membangun sistem persampahan yang lebih terintegrasi.

Tantangannya kini bukan hanya memastikan sampah terangkut hingga TPA, melainkan juga mengurangi sampah sejak dari sumbernya. Sebab, kota yang bersih tidak cukup dibangun dengan armada yang lebih banyak, tetapi juga melalui kebiasaan masyarakat yang semakin peduli terhadap lingkungan. (ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *