BONE, NALARMEDIA – Ahad pagi, 6 September 2026, suasana di sekitar Stadion La Patau Watampone tampak berbeda. Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. (BupAAS), memanfaatkan pagi hari dengan berolahraga sekaligus menyapa langsung wajah perkotaan Bone.
Dengan berjalan kaki mengitari kawasan stadion, BupAAS menikmati satu demi satu dinding stadion yang kini tampil lebih berwarna melalui lukisan mural persembahan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemerintah Kabupaten Bone.
Mural-mural tersebut tidak sekadar mempercantik kawasan stadion. Bagi BupAAS, keberadaan karya visual di ruang publik menjadi bagian dari upaya menghadirkan wajah kota yang lebih hidup, bersih, tertata dan memiliki identitas.
Usai berolahraga, kegiatan berlanjut dalam suasana yang lebih santai. BupAAS duduk bersama dalam sarasehan yang diikuti para kepala OPD lingkup Pemkab Bone, Direktur Perumda Wae Manurung Bahtiar, serta para camat dan lurah di wilayah perkotaan Bone.
Tak ada suasana kaku. Pembicaraan berlangsung cair dan penuh kehangatan. Namun di balik suasana santai tersebut, sejumlah persoalan penting yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat dan penataan Kota Watampone menjadi bahan pembahasan.
BupAAS mengingatkan jajaran pemerintah agar berbagai program tidak berhenti pada rutinitas administratif, tetapi harus mampu melahirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Salah satunya terkait pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
BupAAS mendorong agar pemanfaatan lahan di sekitar rumah tidak dibiarkan kosong, tetapi dapat diubah menjadi lahan produktif dengan menanam sayuran.
“Lahan yang ada di sekitar rumah kita manfaatkan. Tanami sayur, bisa untuk dikonsumsi sendiri, kalau lebih bisa dijual. Jadi lahan menjadi produktif dan masyarakat juga mendapatkan manfaat,” pesan BupAAS di hadapan jajaran OPD, camat dan lurah.
Pembahasan juga menyentuh potensi ikan bioflok yang dapat dikembangkan masyarakat.
Konsep tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari pemanfaatan lahan pekarangan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi keluarga.
BupAAS juga menaruh perhatian terhadap target Adipura 2026.
Ia meminta seluruh jajaran tidak melihat kebersihan sebagai pekerjaan satu atau dua OPD saja, melainkan tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari lingkungan terkecil.
“Kalau kita ingin Adipura, jangan hanya bekerja ketika ada penilaian. Kebersihan harus menjadi kebiasaan. Mulai dari rumah, lingkungan, kelurahan sampai kawasan perkotaan,” tegasnya.
Persoalan banjir juga menjadi perhatian. Menghadapi kondisi setelah musim hujan, BupAAS meminta dilakukan langkah antisipasi, termasuk memastikan saluran air dan titik-titik rawan dapat ditangani secara cepat.
Menurutnya, pemerintah tidak boleh hanya bergerak setelah banjir terjadi. Pemetaan titik rawan, pembersihan saluran dan langkah pencegahan harus dilakukan lebih awal.
Selain itu, BupAAS mengingatkan mengenai bahaya kebakaran, terutama di kawasan permukiman.
Camat dan lurah diminta meningkatkan edukasi kepada masyarakat serta memastikan kesiapsiagaan lingkungan menghadapi potensi kebakaran.
Hal lain yang turut menjadi perhatian adalah keberadaan Poskamling. BupAAS mendorong agar pos keamanan lingkungan kembali dihidupkan sebagai ruang kebersamaan warga sekaligus memperkuat sistem keamanan berbasis masyarakat.
“Pemerintah hadir bukan hanya ketika ada masalah. Kita harus mencegah sebelum masalah itu terjadi. Camat dan lurah harus dekat dengan masyarakat, tahu persoalan di wilayahnya dan cepat mengambil langkah,” ujar BupAAS.
Sarasehan pagi itu menjadi gambaran bagaimana ruang-ruang informal dapat menjadi tempat penting untuk membicarakan berbagai persoalan daerah.
Di tengah aktivitas olahraga dan menikmati mural, BupAAS justru menggunakan momentum tersebut untuk menyatukan langkah jajaran pemerintah daerah dalam mengurus hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Mulai dari lingkungan yang bersih, lahan pekarangan yang produktif, ketahanan pangan keluarga, pengelolaan sampah, pencegahan banjir dan kebakaran, hingga keamanan lingkungan. (red)















