Purnatugas Bukan Akhir Pengabdian, Bunda Iin “Turun Gunung” Perkuat Kompetensi Guru Athirah

Purnatugas bukan berarti berhenti mengabdi. Semangat untuk terus mencerdaskan generasi bangsa justru kembali ditunjukkan Muthmainnah, M.Pd., purnabakti Kepala TK Islam Athirah, yang kembali hadir di tengah para guru untuk berbagi pengalaman dan memperkuat kualitas pembelajaran anak usia dini.
banner 325x300

MAKASSAR, NALARMEDIA — Purnatugas bukan berarti berhenti mengabdi. Semangat untuk terus mencerdaskan generasi bangsa justru kembali ditunjukkan Muthmainnah, M.Pd., purnabakti Kepala TK Islam Athirah, yang kembali hadir di tengah para guru untuk berbagi pengalaman dan memperkuat kualitas pembelajaran anak usia dini.

Akrab disapa Bunda Iin, Muthmainnah hadir sebagai narasumber dalam kegiatan Musyawarah Guru Taman Kanak-Kanak (MGTK) Baby House (BBH)–TK Islam Athirah Makassar dan TK Islam Athirah Bukit Baruga.

Kegiatan tersebut mengangkat tema “Konsep Dasar dan Filosofi Pembelajaran Sentra” dan berlangsung Sabtu, 19 September 2026, di Ruang Pelatihan Sekolah Islam Athirah, Jalan Kajaolalido Nomor 22, Makassar.

Kegiatan diikuti seluruh guru BBH–TK Islam Athirah Makassar, TK Islam Athirah Bukit Baruga, serta TK Islam Athirah Racing Center.

MGTK ini menjadi bagian dari program peningkatan kapasitas guru secara berkelanjutan sebagai bentuk komitmen Sekolah Islam Athirah dalam menjaga dan meningkatkan mutu pembelajaran anak usia dini.

Sentra Bukan Sekadar Tempat Bermain

Dalam pemaparannya, Bunda Iin menyampaikan materi secara lugas, sistematis, dan mudah dipahami. Ia mengawali pembahasan dengan mengurai filosofi sentra sebagai pendekatan pembelajaran yang menempatkan anak sebagai pusat proses belajar.

Menurutnya, pembelajaran sentra tidak boleh dimaknai sebatas pembagian ruang atau sudut bermain.

Lebih dari itu, sentra merupakan ekosistem belajar yang dirancang untuk mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.

“Sentra bukan sekadar sudut bermain, melainkan sebuah ekosistem belajar yang dirancang untuk membangun fondasi otak anak secara holistik melalui keseimbangan antara stimulasi sensorimotorik, imajinasi peran, dan logika pembangunan karya,” terang Bunda Iin.

Materi kemudian berlanjut pada konsep dasar pembelajaran sentra. Tidak hanya menyampaikan teori, Bunda Iin juga membedah secara mendalam enam sentra beserta implementasinya di dalam kelas.

Keenam sentra tersebut memiliki peran strategis dalam mendukung perkembangan anak secara holistik melalui pengalaman bermain yang bermakna, terarah, dan disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak.

Bagi Bunda Iin, keberhasilan pelatihan tidak cukup diukur dari seberapa banyak teori yang dipahami guru. Hal yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan dalam aktivitas pembelajaran sehari-hari.

“Harapan saya, pelatihan ini tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi dapat diwujudkan dalam praktik nyata di ruang kelas,” katanya.

Guru Diminta Mendampingi Anak dengan Hati

Bunda Iin juga mengingatkan pentingnya keterampilan guru dalam memahami karakter dan kebutuhan setiap anak. Guru, kata dia, perlu memberikan ruang belajar yang setara agar setiap anak dapat berkembang sesuai potensinya.

“Semoga para guru semakin mampu mendampingi anak dengan hati, menghadirkan pembelajaran dengan cinta, dan memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk tumbuh sesuai potensinya,” imbuhnya.

Kehadiran Bunda Iin memberikan warna tersendiri dalam forum MGTK. Pengalaman panjangnya di dunia pendidikan anak usia dini menjadi modal penting bagi para guru muda untuk mendapatkan perspektif yang tidak hanya bersumber dari teori, tetapi juga pengalaman praktik selama bertahun-tahun.

Bunda Iin diketahui pernah memimpin TK Islam Athirah selama tujuh tahun.

Dalam periode tersebut, ia turut membangun fondasi pembelajaran sentra yang menjadi bagian penting dalam proses pendidikan anak usia dini di lingkungan Sekolah Islam Athirah.

Pengabdian Melampaui Ruang Kelas

Dedikasi Bunda Iin terhadap dunia pendidikan juga tidak terbatas pada aktivitas pembelajaran di kelas. Selama berkiprah di Sekolah Islam Athirah, ia pernah dipercaya memimpin sejumlah departemen, di antaranya Departemen Penelitian dan Pengembangan (Litbang) serta Departemen Hubungan Masyarakat.

Ia juga disebut menjadi salah satu sosok yang berperan dalam cikal bakal lahirnya pendidikan inklusi di Sekolah Islam Athirah.

Setelah purnatugas dari Sekolah Islam Athirah, kiprahnya berlanjut dalam lingkup yang lebih luas.

Ia pernah dipercaya mengemban amanah negara sebagai Kepala Wisma di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Astana, Kazakhstan.

Pengalaman tersebut turut memperkaya perspektifnya mengenai pentingnya pendidikan karakter dan pembentukan fondasi anak sejak usia dini.

Kini, ketika kembali hadir di forum MGTK Athirah, Bunda Iin seolah menunjukkan bahwa pengabdian di dunia pendidikan tidak mengenal batas usia maupun status pekerjaan.

Purnatugas baginya bukan garis akhir. Pengalaman, pengetahuan, dan kecintaan terhadap pendidikan justru menjadi bekal untuk terus menyalakan semangat belajar di kalangan generasi baru pendidik.

Kehadirannya di tengah guru-guru muda Athirah pun menjadi pesan bahwa ilmu yang telah diperoleh selama puluhan tahun akan semakin berarti ketika terus dibagikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (rls/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *