Munafri Bidik Revolusi Sampah dari Sekolah, 700 Bank Sampah Jadi Motor Gerakan di Makassar

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menghadiri Rapat Koordinasi dan Asesmen Kepala Sekolah SD dan SMP serta penandatanganan nota kesepahaman bank sampah di Hotel Claro Makassar, Jalan AP Pettarani, Senin (21/9/2026).
banner 325x300

MAKASSAR, NALARMEDIA.ID – Persoalan sampah di Makassar tak ingin hanya diselesaikan di hilir. Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin memilih masuk dari ruang kelas, membangun kebiasaan memilah sampah sejak anak-anak masih duduk di bangku sekolah.

Strateginya sederhana, tetapi berorientasi jangka panjang: menjadikan sekolah sebagai tempat lahirnya generasi yang terbiasa membedakan sampah organik, anorganik, dan residu sebelum membuangnya.

Munafri menilai perubahan perilaku akan lebih mudah dibangun sejak usia dini. Kebiasaan yang dilakukan setiap hari di sekolah diharapkan terbawa hingga ke rumah, bahkan menular kepada keluarga dan lingkungan tempat tinggal.

“Kalau anak-anak ini sudah dididik dari sekolah, insyaallah dalam kehidupan sehari-harinya ini akan berjalan dan menular di tempat lain,” kata Munafri, Selasa (22/9/2026).

Tiga Tempat Sampah, Satu Kebiasaan Baru

Untuk menjalankan gerakan tersebut, setiap sekolah didorong menyediakan tempat sampah terpisah berdasarkan tiga kategori utama: organik, anorganik, dan residu.

Namun, penyediaan wadah saja dinilai tidak cukup. Siswa harus memahami jenis sampah yang masuk ke masing-masing tempat, mulai dari sisa makanan, botol plastik, hingga sampah residu seperti popok sekali pakai.

Dengan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, memilah sampah diharapkan bukan lagi sekadar tugas sekolah, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari.

Munafri menyadari mengubah kebiasaan masyarakat yang telah terbentuk bertahun-tahun bukan perkara mudah. Karena itu, sekolah dipilih sebagai salah satu titik penting untuk menanamkan kesadaran lingkungan sejak awal.

“Membentuk kebiasaan baru pada orang dewasa membutuhkan waktu karena perilaku lama telah berlangsung selama bertahun-tahun. Karena itu, penanaman kesadaran sejak bangku sekolah diharapkan menjadi investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang terbiasa memilah sampah dan menjaga kebersihan lingkungan,” katanya.

Sampah Dipilah, Uangnya Berputar

Gerakan tersebut juga tidak berhenti pada urusan kebersihan. Pemilahan sampah di sekolah dirancang terhubung dengan bank sampah unit sehingga sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual bisa dikumpulkan dan dikelola.

Potensinya cukup besar. Makassar saat ini memiliki sekitar 700 bank sampah unit yang dapat menjadi jaringan pendukung pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan sekolah.

Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar menunjukkan aktivitas bank sampah mulai menghasilkan nilai ekonomi yang signifikan.

Sepanjang 2025, pendapatan Bank Sampah Pusat tercatat mencapai Rp367 juta. Sedangkan hingga Juli 2026, nilainya telah melonjak menjadi sekitar Rp903,95 juta.

DLH Makassar bahkan memasang target pendapatan mencapai Rp2,5 miliar sepanjang 2026.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa sampah yang dipilah dan dikelola dengan benar bukan semata persoalan lingkungan. Di balik tumpukan barang yang selama ini dianggap tidak berguna, terdapat potensi ekonomi yang bisa dimanfaatkan.

Sampah Organik Tak Perlu Keluar Sekolah

Sementara sampah anorganik diarahkan menuju bank sampah, sampah organik diharapkan bisa selesai di lingkungan sekolah.

Sisa makanan dan sampah organik lainnya dapat diolah melalui sejumlah metode, seperti lubang biopori, teba, hingga eco enzyme.

Hasil pengolahannya kemudian dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian perkotaan atau urban farming di lingkungan sekolah. Dengan pola tersebut, sebagian sampah bisa ditangani langsung dari sumbernya tanpa harus seluruhnya dibawa ke tempat pemrosesan akhir.

Kepala DLH Kota Makassar Helmy Budiman turut mendorong penerapan pengelolaan sampah dari sumber. Sekolah diharapkan tidak hanya menjadi ruang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga laboratorium pembentukan kebiasaan hidup bersih dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Munafri Minta OPD Keroyokan

Untuk memastikan gerakan berjalan, Munafri menginginkan keterlibatan lintas organisasi perangkat daerah (OPD).

Dinas Pendidikan dan DLH menjadi bagian penting dalam edukasi dan pengelolaan sampah. Sementara Dinas Pertanian dan Perikanan serta Dinas Ketahanan Pangan dapat mengambil peran dalam pemanfaatan hasil pengolahan sampah organik untuk kegiatan produktif.

Kolaborasi tersebut diharapkan melahirkan ekosistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, mulai dari memilah, mengolah, mendaur ulang hingga menghasilkan manfaat ekonomi.

Bagi Pemkot Makassar, sekolah akhirnya tidak sekadar menjadi tempat anak-anak belajar membaca dan berhitung. Dari sekolah pula kebiasaan baru ingin ditanamkan: sampah tidak sekadar dibuang, tetapi harus dipilah dan dikelola.

Jika kebiasaan itu berhasil tumbuh pada anak-anak dan terbawa hingga ke rumah, gerakan kecil dari ruang kelas bisa menjadi investasi besar bagi masa depan pengelolaan sampah Kota Makassar. (ADV)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *