Berita  

El Nino Ancam Panen, LAZ Hadji Kalla Sulap Daun Kelapa Jadi Cuan! Petani Parigi Moutong Dibekali Jurus Bertahan

Program Manager Bidang Community and Development Care (Comdev) LAZ Hadji Kalla, Erny Rachmi Nurdin, melakukan kunjungan ke beberapa titik demplot petani di desa binaan yang berlokasi di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, beberapa waktu lalu.
banner 325x300

PARIGI MOUTONG, NALARMEDIA.ID – Ancaman El Nino dan kemarau panjang tak boleh membuat petani kehilangan harapan. Di tengah risiko kekeringan yang menggerus produktivitas pertanian, Lembaga Amil Zakat (LAZ) Hadji Kalla menghadirkan strategi pemberdayaan untuk membantu masyarakat tetap produktif sekaligus membuka sumber penghasilan baru.

Melalui program Desa Bangkit Sejahtera (DBS), LAZ Hadji Kalla mendorong petani dan kelompok masyarakat di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, agar tidak hanya bergantung pada satu komoditas pertanian atau perkebunan. Warga didampingi untuk mengembangkan usaha alternatif yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Bukan sekadar bertahan menghadapi kemarau, masyarakat juga didorong mengolah potensi lokal menjadi peluang ekonomi. Mulai dari budidaya tanaman yang sesuai dengan kondisi lingkungan hingga mengubah daun kelapa menjadi produk bernilai jual.

Program Manager Bidang Community and Development Care (Comdev) LAZ Hadji Kalla, Erny Rachmi Nurdin, mengatakan, El Nino menjadi tantangan nyata bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian dan perkebunan.

Ketika musim kemarau berlangsung panjang, ketersediaan air menurun drastis sehingga aktivitas budidaya ikut terdampak. Kondisi ini membuat masyarakat perlu memiliki sumber pendapatan lain agar tidak sepenuhnya bergantung pada hasil panen.

“Ketika terjadi El Nino berupa kemarau yang panjang, kelompok masyarakat yang sebelumnya fokus melakukan budidaya komoditas pertanian ataupun perkebunan menghadapi tantangan karena kondisi kekeringan dan debit sumber air yang menurun drastis,” ujar Erny.

Menurutnya, masyarakat perlu didorong untuk mengenali potensi wilayah masing-masing dan mengembangkan usaha yang dapat menopang perekonomian keluarga ketika kondisi alam tidak bersahabat.

Karena itu, LAZ Hadji Kalla melalui program DBS tidak hanya mendorong aktivitas budidaya, tetapi juga memperluas pilihan usaha masyarakat hingga ke sektor pengolahan produk.

Daun Kelapa Disulap Jadi Produk Bernilai Jual

Salah satu langkah yang dikembangkan adalah diversifikasi usaha berbasis potensi lokal. Warga didorong membudidayakan komoditas yang dinilai relatif sesuai dengan kondisi wilayah, seperti mentimun, kacang panjang, dan kakao.

Selain sektor pertanian dan perkebunan, program ini juga membuka peluang usaha rumahan melalui pemanfaatan daun kelapa menjadi sapu lidi dan piring lidi.

Tak berhenti di situ, masyarakat turut didorong membentuk kelompok usaha yang memproduksi suvenir berupa celengan karakter.

Beragam kegiatan tersebut diharapkan dapat memperluas sumber pendapatan keluarga, sehingga ekonomi masyarakat tidak hanya bergantung pada keberhasilan panen.

“Karena itu, kami mendorong masyarakat untuk melihat potensi lain yang bisa dikembangkan sesuai dengan kondisi wilayah, sehingga sumber penghasilan mereka tidak hanya bergantung di sisi hulu, yaitu budidaya komoditas pertanian ataupun perkebunan,” jelas Erny.

Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan ekonomi masyarakat di tengah perubahan kondisi lingkungan yang semakin menantang.

Tiga Desa di Parigi Moutong Jadi Sasaran Pemberdayaan

Program Desa Bangkit Sejahtera telah berjalan selama dua tahun terakhir di tiga desa di Kabupaten Parigi Moutong.

Ketiga desa tersebut yakni Desa Ta’aniuge di Kecamatan Tomini, Desa Baina’a Barat, serta Desa Ambason Mekar di Kecamatan Tinombo.

Melalui pendampingan dan pembinaan, masyarakat memperoleh pengetahuan serta keterampilan untuk mengembangkan usaha sesuai potensi lokal. Program ini juga diarahkan agar kelompok penerima manfaat mampu meningkatkan pendapatan dan melanjutkan kegiatan usaha secara mandiri.

Kepala Desa Ambason Mekar, Abdul Aziz E. Hamu, menyampaikan apresiasi kepada LAZ Hadji Kalla atas pendampingan pemberdayaan yang telah diberikan kepada masyarakat desanya.

Ia menilai, manfaat program tidak hanya dirasakan melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga mulai terlihat pada peningkatan pendapatan kelompok masyarakat yang terpilih sebagai penerima manfaat.

“Saya selaku Kepala Desa Ambason Mekar sangat bersyukur dan berterima kasih kepada LAZ Hadji Kalla yang telah banyak menjalankan kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat di desa kami selama ini,” ungkap Abdul Aziz.

Ia berharap semakin banyak desa yang memperoleh kesempatan serupa sehingga manfaat program pemberdayaan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

Abdul Aziz juga berharap warga Ambason Mekar mampu meneruskan berbagai kegiatan yang telah dirintis, meskipun masa pendampingan program nantinya berakhir.

“Semoga semakin banyak desa yang akan mendapatkan pendampingan dari LAZ Hadji Kalla di waktu mendatang dan semoga kami juga akan selalu dapat melanjutkan programnya secara mandiri, walaupun desa kami sudah tidak didampingi lagi,” tambahnya.

Bukan Sekadar Bantuan, tetapi Membangun Kemandirian

Program Desa Bangkit Sejahtera dirancang agar pemberdayaan masyarakat tidak berhenti pada pemberian bantuan. Lebih dari itu, program ini berupaya membangun kapasitas warga agar memiliki keterampilan, peluang usaha, dan sumber pendapatan yang lebih beragam.

Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian, diversifikasi usaha menjadi salah satu strategi untuk menghadapi risiko perubahan iklim dan ketidakpastian hasil panen.

Melalui pengembangan komoditas pertanian, pemanfaatan bahan baku lokal, serta pembentukan kelompok usaha rumahan, LAZ Hadji Kalla mendorong masyarakat agar mampu memanfaatkan potensi di sekitarnya menjadi peluang ekonomi.

Harapannya, ketika kemarau panjang datang dan hasil pertanian menghadapi tekanan, keluarga petani tetap memiliki alternatif penghasilan untuk menopang kebutuhan sehari-hari.

Upaya pemberdayaan di tiga desa Parigi Moutong ini sekaligus menegaskan pentingnya membangun kemandirian ekonomi masyarakat dari tingkat desa, agar mereka lebih siap menghadapi tantangan lingkungan tanpa kehilangan kesempatan untuk terus tumbuh dan produktif. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *