Guru yang Hebat Mengajar, Guru yang Dirindukan Menginspirasi

Praktisi sekaligus konsultan pendidikan Dr. H. Edi Sutarto, M.Pd. sebagai narasumber dan fasilitator, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi bagi para pendidik untuk kembali memahami hakikat kepemimpinan dan profesi guru.
banner 325x300

MAKASSAR, NALARMEDIA — Ada guru yang dikenang karena pelajarannya. Ada pula guru yang dikenang karena kata-katanya.

Namun, ada guru yang lebih dari sekadar itu—guru yang kehadirannya dirindukan, nasihatnya diingat, dan keteladanannya terus hidup dalam perjalanan anak didiknya.

Semangat itulah yang coba dihadirkan PT Hikmah Cerdas Berkualitas bekerja sama dengan BTA 8 Jakarta Cabang Sulawesi Selatan melalui rangkaian seminar dan pelatihan bertema “Pemimpin dan Guru yang Dirindukan.”

Menghadirkan praktisi sekaligus konsultan pendidikan Dr. H. Edi Sutarto, M.Pd. sebagai narasumber dan fasilitator, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi bagi para pendidik untuk kembali memahami hakikat kepemimpinan dan profesi guru.

Bukan semata tentang bagaimana menyampaikan materi pelajaran, tetapi bagaimana seorang guru mampu menjadi teladan, menyentuh hati, menghadirkan rasa nyaman, serta membangun hubungan yang bermakna dengan peserta didik.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, para peserta diajak melihat dunia pendidikan dari perspektif semiotika dan hermeneutika, khususnya dalam mengkaji sosok dan pemikiran Ki Hajar Dewantara serta relevansinya dengan tantangan pendidikan modern.

Dr. Edi Sutarto mengajak para pendidik untuk tidak kehilangan akar filosofis pendidikan nasional di tengah derasnya arus modernisasi.

Menurutnya, kemajuan pendidikan tidak cukup hanya diukur dari kecanggihan metode, teknologi, maupun sistem pembelajaran.

Di balik semua itu, tetap dibutuhkan nilai-nilai fundamental berupa keteladanan, kepedulian, kasih sayang, dan hubungan kemanusiaan.

“Menjadi guru bukan sekadar menyampaikan ilmu, tetapi juga memberi teladan, menyentuh hati, dan menghadirkan rasa nyaman. Menjadi guru yang dirindukan berarti menjadi sosok yang kehadirannya dinanti dan mampu menginspirasi,” demikian salah satu pesan yang mengemuka dalam pelatihan tersebut.

Kembali ke Athirah, Tempat Pernah Mengabdi

Seminar perdana digelar di Sekolah Islam Athirah Makassar, Jumat (18 September 2026).

Pemilihan Athirah sebagai lokasi launching memiliki makna tersendiri bagi Dr. Edi Sutarto.

Sekolah tersebut bukan tempat yang asing baginya. Ia pernah dipercaya mengemban amanah sebagai Direktur Sekolah Islam Athirah periode 2011–2017.

Enam tahun menjadi bagian dari perjalanan Athirah memberikan pengalaman tersendiri bagi Dr. Edi dalam mengembangkan kreativitas dan manajemen pendidikan.

Pada masa kepemimpinannya, Sekolah Islam Athirah mengalami berbagai perkembangan.

Kiprah tersebut juga dikaitkan dengan sejumlah penghargaan, termasuk penghargaan pada 2015 serta penghargaan sebagai pengelola manajemen terbaik dari Gubernur Sulawesi Selatan pada 2017.

Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, Dr. Edi kembali ke Athirah bukan sekadar sebagai mantan pimpinan, melainkan sebagai seorang pendidik yang berbagi pengalaman dan gagasan dengan para guru.

Pertemuan itu sekaligus menjadi ruang untuk mengingat kembali bahwa pendidikan pada akhirnya selalu berbicara tentang manusia.

Guru yang Dirindukan Lahir dari Hubungan yang Bermakna

Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut di SIT Ittihad.

Di tempat tersebut, para guru diajak kembali melihat profesinya dari sisi yang lebih dalam.

Guru tidak hanya hadir di depan kelas untuk menyampaikan materi, tetapi juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter, memberikan rasa aman, dan menumbuhkan kepercayaan diri peserta didik.

Salah seorang peserta, Nurzakila, S.Pd., M.Pd., Gr., Wakasek Kesiswaan SIT Ittihad, mengaku memperoleh perspektif baru mengenai makna menjadi seorang pendidik.

“Pelatihan ini menjadi ruang refleksi bahwa menjadi guru bukan sekadar menyampaikan ilmu, tetapi juga memberi teladan, menyentuh hati, dan menghadirkan rasa nyaman. Menjadi guru yang dirindukan berarti menjadi sosok yang kehadirannya dinanti dan mampu menginspirasi,” ujarnya.

Baginya, materi yang disampaikan memberikan kesempatan kepada para guru untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan melihat kembali hubungan mereka dengan peserta didik.

Sebab, tidak semua hal yang paling berharga dalam pendidikan dapat diukur melalui nilai ujian.

Terkadang, sebuah perhatian kecil, kalimat penyemangat, kesediaan mendengarkan, atau keteladanan seorang guru justru menjadi sesuatu yang paling lama tinggal dalam ingatan seorang anak.

Didukung Tokoh Pendidikan

Program tersebut turut mendapat dukungan dari Prof. Dr. Komaruddin, M.Si., Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ), serta Dr. M. Yusron, perwakilan dari Kementerian Pendidikan Nasional.

Prof. Dr. Komaruddin menilai Dr. Edi Sutarto memiliki kemampuan komunikasi yang kuat ketika berada di hadapan peserta.

“Saat saya satu panggung di forum-forum seminar dengan Pak Edi, hemat saya beliau adalah pemateri yang sangat komunikatif, energik, dan pandai memikat peserta dengan gayanya yang teatrikal,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. M. Yusron menyoroti pengalaman Dr. Edi sebagai praktisi dan konsultan pendidikan, termasuk kiprahnya sebagai penulis buku Pemimpin Cinta dan Sekolah Cinta.

“Pak Edi, sebagai praktisi dan konsultan pendidikan serta penulis buku-buku best seller seperti Pemimpin Cinta dan Sekolah Cinta, kehadirannya di tengah-tengah para pemimpin pendidikan dan guru akan menambah warna dan kekuatan kompetensi serta nilai profesionalitas yang nyata,” ungkapnya.

Dari Seminar Menuju Ruang Praktik

Setelah rangkaian seminar, kegiatan berlanjut melalui pelatihan perdana yang digelar di Hotel Wthree Makassar, Ahad (20 September 2026).

Sekitar 40 peserta mengikuti pelatihan tersebut. Mereka berasal dari kalangan guru, mahasiswa, serta peserta dari berbagai latar belakang yang memiliki perhatian terhadap dunia pendidikan.

Dalam pelatihan itu, peserta tidak hanya diajak memahami konsep kepemimpinan, tetapi juga bagaimana menghadirkan kepemimpinan yang berorientasi pada keteladanan, kompetensi, kepedulian, dan kemampuan menciptakan lingkungan belajar yang nyaman serta inspiratif.

Rangkaian pelatihan berikutnya dijadwalkan kembali berlangsung di Hotel Wthree Makassar pada 29 September 2026.

Masyarakat, guru, mahasiswa, maupun pemerhati pendidikan yang ingin memperoleh informasi lebih lanjut dapat menghubungi panitia melalui akun Instagram @bta8jkt.sulsel.

Pada akhirnya, “Pemimpin dan Guru yang Dirindukan” bukan sekadar sebuah tema pelatihan.

Ia adalah sebuah pertanyaan sederhana yang layak direnungkan setiap pendidik: ketika kelak seorang murid mengingat masa sekolahnya, apakah ia hanya mengingat pelajaran yang pernah diberikan, atau juga mengingat seorang guru yang pernah membuatnya merasa dihargai, dipercaya, dan mampu menjadi dirinya sendiri?

PT Hikmah Cerdas Berkualitas bersama BTA 8 Jakarta Cabang Sulawesi Selatan berharap rangkaian kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya melahirkan manusia berkompetensi, tetapi juga manusia yang memiliki karakter, keteladanan, kepedulian, dan kemampuan menginspirasi.

Sebab, guru yang hebat mungkin mengajarkan banyak hal. Namun, guru yang dirindukan meninggalkan sesuatu yang jauh lebih panjang: jejak dalam hati anak didiknya. (rls/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *