BONE, NALARMEDIA.ID – Pagi itu, Alfiah mungkin tak pernah membayangkan bahwa sapaan polosnya dari teras rumah akan menjadi perjumpaan yang begitu berkesan.
Alfiah anak yatim piatu. Sang ayah, Edi Susanto sudah meninggal empat tahun yang lalu. Sang ibu, Suhra sudah meninggal tujuh bulan lalu.
Dengan wajah ceria, ia melambaikan tangan sambil berteriak kegirangan melihat seseorang yang melintas di depan rumahnya.
“Horeee! Bupati Bone lewat!”
Teriakan kecil itu sontak menghentikan langkah Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. (BupAAS), yang sedang berjalan pagi bersama Ketua TP PKK Kabupaten Bone, Hj. Maryam Andi Asman, di Jalan Poros Ujung Lamuru–Palattae, Ahad (1 November 2026).
Mengenakan topi putih dan baju abu-abu, Andi Asman yang berjalan santai langsung berbalik arah.
Senyum mengembang di wajahnya. Ia kemudian menghampiri Alfiah yang masih berdiri di teras rumah dengan penuh kegembiraan.
Tak ada sekat jabatan dalam perjumpaan singkat itu. Sang Bupati menyapa Alfiah dengan hangat, mengajaknya berbincang, dan mendengarkan cerita dari keluarga anak tersebut.
Namun, di balik senyum cerianya, tersimpan kisah kehidupan yang tak mudah.
Alfiah ternyata seorang anak yatim piatu. Kedua orang tuanya telah tiada. Fakta itu membuat suasana yang semula penuh tawa mendadak berubah haru.
Andi Asman terdiam sejenak. Raut wajahnya berubah setelah mengetahui kenyataan yang dialami anak tersebut.
Ia kemudian mendekat, merangkul Alfiah, dan memberikan semangat agar tetap tegar menjalani kehidupan.
Bahkan, mata Bupati Bone tampak berkaca-kaca. Ada kepedulian yang tergambar dari caranya memberikan perhatian kepada anak kecil yang baru saja menyapanya.
Di hadapan Alfiah, Andi Asman berpesan agar dirinya tidak kehilangan semangat untuk belajar. Ia juga memotivasi sang anak supaya terus mengejar cita-cita dan tidak merasa sendirian dalam menatap masa depan.
Sebagai bentuk perhatian, Bupati Bone kemudian memberikan bantuan uang tunai dan sebuah sepeda baru untuk Alfiah.
“Anak-anak seperti ini adalah masa depan kita. Kehadiran dan kepedulian kita sangat berarti bagi tumbuh kembang dan semangat mereka. Semoga sepeda dan bantuan ini bisa membawa kebahagiaan serta membantu aktivitas sehari-harinya,” sebut Andi Asman dengan mata berkaca-kaca.
Sepeda Baru, Harapan Baru untuk Alfiah
Bagi sebagian orang, sepeda mungkin hanya alat transportasi atau mainan sederhana. Namun, bagi Alfiah, hadiah tersebut memiliki makna lebih dari sekadar sebuah barang.
Di tengah perjalanan hidup yang harus dijalaninya tanpa kehadiran kedua orang tua, perhatian yang datang dari orang-orang di sekitarnya menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Sepeda baru dan bantuan uang tunai itu mungkin tidak serta-merta menghapus kesedihan yang pernah dialaminya. Namun, setidaknya ada kebahagiaan kecil yang hadir pada pagi itu.
Alfiah tersenyum bahagia. Warga yang menyaksikan perjumpaan tersebut pun ikut larut dalam suasana haru.
Momen sederhana itu memperlihatkan bagaimana sebuah perhatian dapat menghadirkan kebahagiaan bagi seorang anak. Tidak harus melalui sesuatu yang besar, terkadang sapaan, pelukan, dan kesediaan untuk mendengarkan sudah cukup membuat seseorang merasa diperhatikan.
Jalan Pagi yang Tak Sekadar Olahraga
Bagi Andi Asman, kegiatan jalan pagi bersama Ketua TP PKK Kabupaten Bone bukan sekadar rutinitas untuk menjaga kebugaran tubuh.
Kesempatan menyusuri kawasan permukiman warga juga menjadi ruang untuk bersilaturahmi, menyapa masyarakat, sekaligus melihat kehidupan warga dari dekat.
Dari perjalanan sederhana itulah, ia bertemu Alfiah. Sebuah perjumpaan yang awalnya hanya diawali teriakan kegembiraan seorang anak, kemudian berkembang menjadi momen penuh makna.
Kisah Alfiah menjadi pengingat bahwa di tengah berbagai agenda pemerintahan, perhatian terhadap kehidupan masyarakat, terutama anak-anak yang membutuhkan dukungan, tetap memiliki arti penting.
Sebab, masa depan anak-anak tidak hanya ditentukan oleh pendidikan dan fasilitas yang mereka dapatkan, tetapi juga oleh lingkungan yang memberikan perhatian, kasih sayang, dan kesempatan untuk tumbuh.
Ahad pagi itu, Alfiah mungkin hanya ingin menyapa Bupati Bone yang melintas di depan rumahnya. Ia tak menyangka sapaan tersebut membuat sang Bupati menghentikan langkah, menghampirinya, bahkan memberikan sepeda baru.
Sebuah sapaan sederhana yang berubah menjadi kenangan.
Dan dari teras rumah di kawasan Ujung Lamuru–Palattae, terselip pesan kemanusiaan yang begitu dekat dengan kehidupan: setiap anak berhak merasa diperhatikan, disayangi, dan memiliki harapan untuk masa depan.
Karena terkadang, kebahagiaan seorang anak tidak membutuhkan sesuatu yang mewah. Cukup ada seseorang yang mau berhenti sejenak, menyapa, mendengarkan, dan membuatnya merasa bahwa ia tidak sendirian. (red)















