Bukan Sekadar Tanam Sayur! BupAAS Sulap Lorong Bugis Jadi Kampung Percontohan Ketahanan Pangan di Bone

Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.Si., (BupAAS) punya gagasan menjadikan Lorong Bugis di Kelurahan Manurunge, Kecamatan Tanete Riattang, sebagai kampung percontohan ketahanan pangan berbasis pekarangan.
banner 325x300

BONE, NALARMEDIA.ID – Lorong yang selama ini menjadi ruang aktivitas warga kini disiapkan menjadi sumber pangan keluarga. Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.Si., (BupAAS) punya gagasan menjadikan Lorong Bugis di Kelurahan Manurunge, Kecamatan Tanete Riattang, sebagai kampung percontohan ketahanan pangan berbasis pekarangan.

Tak sekadar menghijaukan lingkungan dengan tanaman sayuran, kawasan tersebut juga akan dikembangkan melalui budidaya ayam petelur. Hasilnya diharapkan bisa dinikmati bersama masyarakat sekaligus menjadi inspirasi bagi lorong-lorong lainnya di Kabupaten Bone.

Gagasan itu disampaikan BupAAS saat mengunjungi Lorong Bugis, Jumat (30 Oktober 2026).

Dalam kunjungannya, Bupati melihat potensi lingkungan tersebut untuk dikembangkan menjadi kawasan Pekarangan Pangan Lestari (P2L), sebuah konsep pemanfaatan pekarangan agar lebih produktif dan memberikan manfaat langsung bagi kebutuhan pangan keluarga.

“Lorong Bugis ini akan menjadi percontohan kampung rujukan untuk belajar bersama cara menanam sayuran. Diharapkan nantinya disumbang dan dijadikan P2L atau Pekarangan Pangan Lestari,” tutur BupAAS.

Menurutnya, gerakan menanam sayuran di lingkungan permukiman bukan hanya tentang menghasilkan bahan pangan, tetapi juga membangun kebiasaan masyarakat untuk memanfaatkan lahan yang tersedia.

Dengan pengelolaan bersama, pekarangan dan ruang kosong di sekitar rumah dapat menjadi sumber pangan yang membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tak Hanya Sayuran, Ayam Petelur Juga Disiapkan

Menariknya, konsep kampung percontohan di Lorong Bugis tidak berhenti pada budidaya tanaman sayuran.

BupAAS juga merencanakan pengembangan budidaya ayam petelur sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

“Selain ditanam dan dikonsumsi, di tempat ini juga akan diadakan ayam petelur sebagai percontohan,” jelasnya.

Kehadiran budidaya ayam petelur diharapkan dapat melengkapi kebutuhan pangan keluarga, khususnya dalam penyediaan sumber protein hewani.

Jika dikelola secara berkelanjutan, konsep tersebut berpotensi menjadi contoh sederhana bagaimana sebuah lorong dapat dikembangkan menjadi kawasan produktif yang memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi warganya.

Lorong Produktif, Warga Lebih Mandiri

Pengembangan Lorong Bugis menjadi kampung rujukan diharapkan dapat menumbuhkan semangat gotong royong dan partisipasi masyarakat dalam menjaga ketahanan pangan.

Bukan tidak mungkin, keberhasilan program ini nantinya akan direplikasi di kelurahan maupun kecamatan lainnya di Kabupaten Bone.

Dengan demikian, gerakan ketahanan pangan tidak hanya bertumpu pada produksi skala besar, tetapi juga tumbuh dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga dan komunitas warga.

Turut mendampingi Bupati Bone dalam kunjungan tersebut, Sekretaris Daerah Bone Edy Saputra Syam, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Andi Ary Pratama Adipaty, Camat Tanete Riattang A. Ikbal Walinono, serta Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga A. Akbar.

Melalui pengembangan Lorong Bugis, BupAAS mendorong agar lorong-lorong di Bone tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ruang tumbuhnya kemandirian pangan, kebersamaan, dan kesejahteraan masyarakat. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *