Teknologi Digital Bukan Sekadar Alat, Akademisi Soroti Perilaku Digital di ASEAN

banner 325x300

MAKASSAR, NALARMEDIA — Pemanfaatan teknologi digital di kawasan ASEAN dinilai masih belum optimal. Teknologi komunikasi yang seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, justru lebih banyak digunakan untuk aktivitas hiburan semata.

Hal tersebut disampaikan dosen dari Universitas Malaya Malaysia, Dr Hafiz Faizal Mohammad Kamil dalam kegiatan Majelis Komunikasi yang diselenggarakan Program Studi Ilmu Komunikasi UMI kerjasama ASPIKOM Sulselbar di Auditorium Al Jibra UMI, Selasa (10/6/2026).

Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa teknologi digital saat ini bukan lagi sekadar alat bantu (tools), melainkan telah menjadi kebutuhan penting untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

“Teknologi digital bukan lagi sekadar alat, tetapi kebutuhan untuk meng-upgrade kehidupan masyarakat. Sayangnya, di level ASEAN, teknologi komunikasi masih lebih banyak dimanfaatkan untuk hal-hal yang jauh dari produktivitas,” ujarnya.

Ia menyoroti tingginya durasi penggunaan teknologi digital yang lebih banyak dihabiskan untuk menggulir media sosial, mengakses meme, bermain gim, dan aktivitas hiburan lainnya dibandingkan untuk pengembangan kapasitas diri maupun produktivitas.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi, Dr. Alem Febri Sonni, menekankan pentingnya keseimbangan antara high contact dan low contact dalam pemanfaatan teknologi digital.

Menurutnya, kemajuan teknologi harus tetap dibarengi dengan kemampuan membangun hubungan sosial yang sehat dan etika komunikasi yang baik di ruang digital.

“Literasi digital menjadi isu penting karena hingga saat ini penyebaran hoaks masih terjadi secara masif. Di sisi lain, karakter bangsa Indonesia yang dikenal santun dan memiliki empati tinggi justru mengalami tantangan di ruang digital,” katanya.

Sonni menilai standar kesopanan masyarakat di dunia maya cenderung mengalami penurunan. Ia bahkan menyinggung sejumlah survei yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat ketidaksantunan digital yang tinggi di kawasan Asia.

Selain itu, ia menilai salah satu persoalan utama yang dihadapi Indonesia adalah ketertinggalan regulasi dibandingkan laju perkembangan teknologi.

“Perkembangan teknologi bergerak sangat cepat, sementara regulasi sering kali hadir lebih lambat. Akibatnya muncul berbagai persoalan baru yang belum sepenuhnya mampu diantisipasi,” ujarnya.

Kegiatan Majelis Komunikasi tersebut digelar oleh Program Studi Ilmu Komunikasi UMI dalam rangka memperingati 72 tahun Universitas Muslim Indonesia dan 39 tahun Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) UMI.

Dekan FSIKP UMI, Dr. Nurjannah Abna, M.Pd, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang menghadirkan akademisi dan praktisi komunikasi tersebut.

Menurutnya, perkembangan teknologi komunikasi digital merupakan realitas yang tidak dapat dihindari sehingga perlu disikapi dengan peningkatan kapasitas dan literasi masyarakat.

“Teknologi komunikasi digital adalah sesuatu yang tidak bisa ditolak. Karena itu, dunia pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan generasi yang mampu memanfaatkannya secara bijak, produktif, dan beretika,” kata Nurjannah.

Kegiatan yang dipandu Ketua Aspikom Sulselbar, Dr Abdul Majid ini diikuti oleh ratusan mahasiswa, dosen, dan berbagai pemangku kepentingan di bidang komunikasi sebagai ruang diskusi mengenai tantangan serta peluang transformasi digital di era komunikasi modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *