MLS 2026 Digelar di Makassar, Pemimpin Masa Depan Ditantang Adaptif di Tengah Era AI

Makassar Leadership Summit (MLS) 2026, akan digelar di Sandeq Ballroom, Claro Hotel Makassar, pada 8 Oktober 2026
banner 325x300

MAKASSAR, NALARMEDIA.ID — Dunia kepemimpinan sedang memasuki fase baru.

Kemampuan mengambil keputusan dan mengarahkan organisasi saja tak lagi cukup. Pemimpin dituntut mampu membaca perubahan, membangun kepercayaan, menjaga manusia di tengah tekanan kinerja, sekaligus menyiapkan organisasi menghadapi masa depan.

Gagasan tersebut akan menjadi salah satu fokus utama Makassar Leadership Summit (MLS) 2026, yang digelar di Sandeq Ballroom, Claro Hotel Makassar, pada 8 Oktober 2026.

Mengusung tema “The Future of Leadership Starts Here”, MLS 2026 diselenggarakan oleh PMSM, GNIK, dan APINDO sebagai ruang dialog lintas sektor yang mempertemukan pemimpin, praktisi, profesional, dan komunitas untuk membahas kepemimpinan secara lebih substantif dan kontekstual.

MLS 2026 tidak sekadar membicarakan leadership sebagai teori. Forum ini akan menguji kepemimpinan melalui berbagai persoalan nyata, mulai dari pengambilan keputusan, perubahan organisasi, tekanan terhadap performa, ketahanan pemimpin dan organisasi, hingga kesiapan menghadapi perkembangan artificial intelligence (AI).

Ketua Panitia MLS 2026 sekaligus Founder Insight Indonesia, Fauziah Zulfitri, S.Psi., M.M., PCC, mengatakan forum tersebut diharapkan menjadi ruang refleksi bagi para pemimpin untuk melihat kembali kebutuhan kepemimpinan di masa depan.

“Kami ingin Makassar Leadership Summit menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari rutinitas kepemimpinan, lalu melihat kembali pertanyaan yang lebih mendasar: pemimpin seperti apa yang dibutuhkan oleh masa depan?” papar Fauziah.

Menurutnya, kepemimpinan tidak semata-mata berkaitan dengan jabatan atau seberapa besar kewenangan yang dimiliki seseorang.

Leadership, kata dia, juga menyangkut kemampuan menciptakan perubahan, menumbuhkan orang lain, serta meninggalkan organisasi dalam kondisi yang lebih baik.

Dari Kepemimpinan Indonesia Timur hingga Era AI

Rangkaian MLS 2026 dirancang dengan pembahasan yang bergerak dari fondasi kepemimpinan hingga tantangan organisasi di masa depan.

Sesi pembuka menghadirkan H.M. Jusuf Kalla melalui keynote bertajuk “Leading from the East”.

Sesi ini mengangkat pengalaman kepemimpinan yang berakar dari Indonesia Timur, dengan pembahasan mengenai keberanian mengambil tanggung jawab, membangun kepercayaan, mengambil keputusan, serta menyelesaikan persoalan nyata.

Perspektif tersebut kemudian diperluas melalui keynote Prof. Yassierli, Ph.D., Menteri Ketenagakerjaan RI, dengan topik “Transforming Bureaucracy for Faster and Impactful Labor Policies”.

Pembahasan akan menyoroti bagaimana kepemimpinan dapat mendorong transformasi birokrasi agar lebih adaptif, responsif, kolaboratif, dan berorientasi pada hasil.

Agenda MLS 2026 juga menghadirkan sejumlah panel yang membedah kepemimpinan dari berbagai perspektif.

Di antaranya Inclusive & Sustainable Leadership, yang mengangkat aspek people, planet, dan long-term values. Kemudian Human Centered Leadership, yang mengeksplorasi pentingnya empati, autentisitas, kerentanan, kepercayaan, serta hubungan antara pengalaman karyawan dan kinerja organisasi.

CEO Besar Bicara Transformasi Organisasi

Pada sesi siang, pembahasan akan bergerak lebih jauh ke tantangan transformasi organisasi melalui sesi “Transformational Leadership: Challenging the Status Quo to Drive Meaningful Change”.

Panel tersebut menghadirkan Irfan Setiaputra, mantan CEO Garuda Indonesia; Tommy Watimena, CEO Great Giant Foods; serta Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia.

Ketiganya dijadwalkan membahas bagaimana pemimpin menghadapi status quo, mengelola resistensi, mengambil keputusan sulit, hingga memastikan perubahan yang dilakukan benar-benar memberikan dampak.

Pembahasan kemudian dilanjutkan melalui sesi “Resilience Leadership: Turning Challenges into Growth” yang menyoroti kemampuan pemimpin menghadapi tekanan dan mengubah tantangan menjadi peluang pertumbuhan.

Sementara pada sesi “AI Ready Leadership: Where to Start?”, peserta akan diajak melihat bagaimana pemimpin dan organisasi memulai perjalanan pemanfaatan AI secara relevan.

Bukan sekadar mengikuti tren teknologi, melainkan menghubungkan AI dengan kebutuhan bisnis, customer value, pengembangan manusia, serta kualitas pengambilan keputusan.

Leadership Tak Berhenti pada Teori

Wakil Direktur GNIK Area Sulsel, Hasnaeni Asri, menilai ruang dialog kepemimpinan semakin penting di tengah perubahan organisasi yang berlangsung cepat.

Menurutnya, transformasi organisasi tidak hanya ditentukan strategi dan teknologi, tetapi juga kualitas manusia yang menjalankannya.

“Kita sedang berada pada fase ketika organisasi tidak hanya membutuhkan leader yang mampu mencapai target, tetapi leader yang mampu membaca perubahan dan menggerakkan manusia untuk menghadapinya bersama,” ucap Hasnaeni.

Ia menekankan, pengembangan kepemimpinan tidak semestinya berhenti pada pengetahuan. Nilai-nilai kepemimpinan perlu diterjemahkan dalam cara berpikir, mengambil keputusan, serta memperlakukan manusia di dalam organisasi.

Bagi Hasnaeni, MLS 2026 juga menjadi ruang penting bagi ekosistem kepemimpinan di Sulawesi Selatan karena mempertemukan berbagai perspektif dari lintas industri dan latar belakang.

Meski tantangan kepemimpinan setiap organisasi berbeda, terdapat pertanyaan fundamental yang sama, yakni bagaimana menciptakan organisasi yang mampu terus bertumbuh tanpa kehilangan nilai dan sisi kemanusiaannya.

Karena itu, setiap sesi MLS 2026 tidak hanya diarahkan untuk menghadirkan gagasan, tetapi juga leadership takeaways yang dapat diterapkan peserta setelah kembali ke organisasi masing-masing.

Peserta Ditantang Membawa Pulang Satu Komitmen

MLS 2026 juga tidak ingin berhenti sebagai forum inspirasi.

Rangkaian kegiatan akan ditutup melalui Wrap Up Session yang difasilitasi Fauziah Zulfitri.

Peserta akan diajak memilih satu insight yang paling relevan, menerjemahkannya menjadi satu komitmen tindakan, kemudian menjawab pertanyaan reflektif:

“What will I do differently as a leader starting tomorrow?”

Fauziah berharap peserta tidak hanya membawa pulang catatan dari berbagai sesi, tetapi juga keputusan konkret mengenai perubahan yang akan dilakukan.

“Leadership growth pada akhirnya bukan tentang seberapa banyak insight yang kita kumpulkan, melainkan seberapa konsisten insight tersebut mengubah perilaku dan cara kita memimpin,” tuturnya.

Melalui MLS 2026, Makassar diharapkan tidak hanya menjadi lokasi berlangsungnya konferensi kepemimpinan, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan gagasan tentang masa depan leadership.

Dari Indonesia Timur, berbagai perspektif kepemimpinan akan dipertemukan untuk membicarakan satu isu yang semakin relevan: bagaimana pemimpin membentuk organisasi, menumbuhkan manusia, dan menavigasi perubahan menuju masa depan. (rls/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *